Asal tau aja ya teman-teman, pemerintah sudah menetapkan sektor properti sebagai leading sector yang akan mendorong pergerakan industri lainnya ketika situasi pandemi Covid-19. Cuman ya itu, dari temen-temen pengembang masih merasa stimulus maupun relaksasi pemerintah buat sektor properti ini masih sangat kurang.

Tapi kok sektor properti sih ?

Nah, soalnya sektor properti adalah sektor bisnis padat karya yang punya industri ikutan sampai 170-an industri. Kalau ada proyek properti dikembangkan kan industri material, industri furnitur, jasa arsitektur, perangkat elektronik, saniter dan lain sebagainya juga ikut gerak.

Hal itulah yang bikin industri properti merupakan salah satu sektor bisnis yang ngasih efek langsung ke perekonomian baik itu pergerakan ekonomi di masyarakat hingga penerimaan pajak yang diterima oleh negara.

Wakil Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Bidang Komunikasi, Promosi, dan Pameran Ikang Fawzi menilai, dari setiap unit produk hunian komersial yang dijual oleh pengembang, terdapat instrumen pajak langsung yang diterima oleh negara sampai 20-30 persen. Dengan kata lain, jika satu unit hunian senilai Rp500 juta, negara menerima pajak sampai Rp150 juta.

“Jadi peran industri properti ini sangat besar dan salah besar kalau pemerintah tidak menjadikan sektor ini sebagai prioritas untuk mendorong perekonomian kita bisa berkembang. Selain penyediaan hunian, begitu banyak dampak langsung yang akan dirasakan dari bisnis properti mulai dari peningkatan pendapatan daerah, pajak, tenaga kerja, pembentukan kualitas lingkungan yang lebih baik, hingga pertumbuhan investasi baru,” kata dia.

Sebagai gambaran besarnya industri ini terhadap perekonomian nasiona Ikang memberikan contoh dari anggota REI di seluruh Indonesia yang mencapai 5.507 perusahaan pengembang, terdapat 66 perusahaan terbuka (Tbk) yang rata-rata memiliki belasan anak perusahaan lainnya.

Sebanyak 627 pengembang rumah komersial, dan sisa sebagian besarnya adalah pengembang kecil yang membangun rumah bersubsidi program sejuta rumah dari pemerintah.

Dari sini saja sudah ada lebih dari 7,5 juta pekerja yang terkait langsung dengan industri properti hingga lebih dari 30 juta tenaga kerja bila dirunutkan dari sektor terkaitnya. Jadi tidak heran toh kalau sektor properti disebut sebagai leading sector karena emang efeknya gede buat perekonomian negara.

Peran sektor properti di pasar modal pun juga ga bisa dibilang kecil. Dari 66 perusahaan anggota REI yang telah Tbk, sebanyak 33,9 persen saham properti dimiliki oleh publik dengan kapitalisasi perusahaan di sektor ini mencapai angka Rp264 triliun. Karena itu maju-mundurnya perusahaan-perusahaan ini akan sangat berdampak pada perekonomian nasional.

Situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini telah menjadikan sektor properti babak belur. Ikang mengatakan, penurunan yang terjadi di sektor perhotelan 90 persen, pusat perbelanjaan atau mal sampai 85 persen, sektor perkantoran sampai 74,6 persen sampai rumah komersial 50-80 persen.

“Di sisi lain saat pandemi ini hambatan yang dirasakan oleh pengembang justru bertambah seperti pengetatan penyaluran kredit dari bank hingga kendala-kendala teknis lainnya yang malah makin memperberat sektor ini untuk berkembang. Kalau pemerintah sudah menyadari pentingnya sektor ini untuk perekonomian mestinya stimulus maupun relaksasi yang diberikan jangan tanggung-tanggung karena sektor ini sudah jelas kontribusinya,” pungkasnya.

Disadur dari rumah.com


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *