Adanya tekanan di sektor properti Indonesia utamanya di bidang perumahan terus berlanjut. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI), pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) di kuartal II-2019 hanya sebesar 1,47% secara tahunan (year-on-year/YoY). Angka pertumbuhan tersebut merupakan yang paling kecil setidaknya sejak tahun 2012.

Menurut BI, kenaikan harga properti residensial terjadi pada semua tipe rumah. Kenaikan harga rumah tipe kecil melambat dari 3,18% di kuartal I-2019 menjadi 2,18% di kuartal II-2019. Rumah tipe menengah melambat dari 1,82% YoY menjadi 1,32 YoY. Adapun rumah tipe besar melambat dari 1,16% YoY menjadi 0,92% YoY.

Perlambatan kenaikan IHPR juga sejalan dengan perlambatan kenaikan biaya yang dikeluarkan oleh rumah tangga untuk tempat tinggal. Hal itu tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) sub kelompok biaya tempat tinggal yang hanya sebesar 0,8% secara kuartalan (quarter-to- quarter/QtQ) di kuartal II-2019, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang sebesar 1,13% QtQ.

Hasil survei BI juga mengungkapkan bahwa angka penjualan rumah pada kuartal II-2019 terkontraksi hingga 15,79% YoY. Penjualan rumah berbalik arah dari kuartal sebelumnya yang meskipun tipis, masih mampu tumbuh sebesar 0,05% YoY.

Penurunan penjualan terjadi pada rumah tipe kecil dan tipe menengah, yang mana masing-masing terkontraksi sebesar 26,55% YoY dan 0,46% YoY. Sementara penjualan rumah tipe besar mampu tumbuh sebesar 11,75% YoY.

Sebagian besar responden menyatakan bahwa faktor utama yang menghambat pertumbuhan penjualan properti residensial di kuartal II-2019 adalah melemahnya daya beli. Ada pula hambatan dari masalah perijinan dan birokrasi yang juga dirasakan oleh responden.

Selain itu suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan harga rumah yang tinggi juga turut menekan angka penjualan rumah. Berdasarkan data laporan bank umum, rata-rata suku bunga KPR pada kuartal II-2019 sebesar 9,43%, sudah lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang sebesar 9,53%.

Namun di beberapa daerah, masih ditemukan suku bunga KPR yang selangit, seperti di Kalimantan Selatan yang mencapai 14,75%. Suku bunga paling tinggi diberikan oleh kelompok Bank Pembangunan Daerah (BPD), yang secara rata-rata nilainya sebesar 11,86% di kuartal II-2019. Sementara paling rendah diberikan oleh Bank Asing dan Campuran, yaitu sebesar 7,05%.
(Sumber : CNBC Indonesia)


Ribuan orang telah bergabung dengan komunitas YukBisnisProperti.org. Sekarang giliran Anda. Dapatkan FREE EBOOKS dan KESEMPATAN untuk bergabung dalam bisnis dan investasi properti dari rekanan YukBisnisProperti.org. Join segera!


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *