Cara Sukses untuk Menjadi Seorang Flipper

Mungkin sebagian orang masih asing dengan kata flipper. Dalam dunia properti, flip artinya membalik posisi dalam transaksi dari seorang pembeli properti menjadi penjual properti dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama. Jadi, flipper adalah sebutan bagi orang yang melakukan transaksi tersebut.

Saat ini, flippper sudah menjadi profesi bagi sebagian orang yang menggeluti bidang properti. Orang yang menjadi flipper biasanya mengharapkan capital gain yang tinggi dari properti yang menjadi objek transaksi. Untuk menjadi seorang flipper kadangkala membutuhkan modal yang besar, kecil, atau bahkan tidak menggunakan modal. Namun bukan berarti tidak mengeluarkan uang sama sekali. Uang tetap dikeluarkan untuk membayar booking fee atau uang muka, biaya pembuatan surat-surat perjanjian di hadapan notaris, biaya materai, dan lain-lain. Besar kecilnya uang muka pun tergantung dari kesepakatan dengan pemilik properti.

Akan tetapi, tidak semua properti bisa di-flip. Ciri-ciri properti yang bisa di-flip adalah sebagai berikut:

  1. Harga properti yang akan Anda flip haruslah di bawah harga pasar. Sehingga Anda bisa lebih mudah menjualnya lagi dengan harga yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang singkat. Untuk itu, Anda perlu memiliki pengetahuan tentang harga pasar properti di wilayah dimana properti tersebut berada.

  2. Pemilik properti bersedia jika propertinya dijual lagi kepada orang lain, dengan jaminan properti harus dilunasi dalam jangka waktu sesuai dengan perjanjian.

  3. Pembayaran yang dilakukan oleh pembeli haruslah secara tunai keras.

Dalam bertransaksi, seorang flipper umumnya akan membuat surat Perjanjian Perikatan Jual Beli (PPJB), yang bisa dibuat di hadapan notaris maupun di bawah tangan. Dalam surat PPJB tersebut dijabarkan pasal-pasal dan objek yang disepakati bersama dari segi legalitas seperti yang tercantum dalam sertifikat. Dalam pasal-pasal perjanjian harus memuat harga properti, besar uang muka, dan jangka waktu seorang flipper harus melunasi pembayaran. Jangka waktu biasanya kurang dari 3 bulan. Dimana dalam jangka waktu tersebut flipper bisa menjual kembali properti yang dibelinya. Selain itu, dalam surat PPJB juga harus tercantum sanksi-sanksi yang diterima oleh flipper apabila tidak bisa melakukan pelunasan atau melakukan pembatalan secara sepihak. Semua tergantung dari kesepakatan antara pemilik properti dan flipper.

Seorang flipper harus bisa menemukan pembeli baru dalam jangka waktu yang diberikan oleh pemilik properti. Tentunya harga jualnya lebih tinggi daripada harga yang ditawarkan oleh pemilik properti, agar dari selisih harga tersebut flipper mendapatkan keuntungan. Lalu dalam hal ini, pembeli baru lah yang melunasi pembayaran kepada pemilik properti.

Itulah sedikit cara sukses untuk menjadi seorang flipper properti. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *