Sebuah Konsep Tentang Rumah Milenial

Berjudul asli [ RUMAH MILLENIALS ], ditulis dan dikonsep oleh Brader Dimas Laksmana, pebisnis properti pemilik brand  Linka Property pada halaman Facebooknya.  Sebuah konsep yang menarik tentang Rumah Millenials atau rumah untuk aum milenials.  Tonton konsepnya dalam video berikut :


Simak pengantarnya sebagai berikut :

Ada berita mengejutkan yang dilansir beberapa situs properti belakangan ini.

Generasi milenials, yaitu generasi yang lahir setelah tahun 1980, dikabarkan tidak dapat membeli rumah untuk diri mereka sendiri dalam tahun-tahun mendatang.

Walaupun ada beberapa pihak yang menyakini kesimpulan ini bisa saja framing untuk beberapa proyek developer tertentu.
Tapi melihat perkembangan kenaikan harga rumah dibeberapa kota besar di Indonesia, kesimpulan ini cukup masuk akal.

Cara paling gampang untuk menghitung harga rumah dan nilai cicilan yang harus dibayar per bulan apabila membeli melalui fasilitas kredit perbankan dengan cara:

Harga Rumah : 3 : 12 : 3

Misalkan harga rumahnya adalah Rp 350.000.000.
Dibagi tiga ketemu Rp 116.667.000.
Dibagi 12 hasilnya adalah Rp 9.722.250 (ini minimal gaji yang harus dimiliki calon kreditur).
Terakhir, dibagi tiga lagi hasilnya adalah Rp 3.240.750 (ini adalah nilai cicilan untuk.jangka waktu kredit 10 tahun dengan bunga dibawah 9%/tahun).

Pertanyaannya adalah.. Dimana rumah baru didaerah DKI yang harganya masih Rp 350 juta?

Pertanyaan kedua.. Apakah milenials bisa mempunyai gaji minimal Rp 9 juta per bulan?

Dengan mahalnya harga tanah di kota-kota besar di Indonesia sepertinya memang sulit membuat rumah harga dibawah Rp 300 juta an.

Tetapi yang lebih mengkhawatirkan survey beberapa lembaga yang menunjukkan penurunan tingkat gaji ‘freshman’ dengan lulusan S1 karena persaingan tenaga kerja dan menurunnya kualitas keahlian secara rata-rata.

Artinya generasi milenials yang mulai memasuki dunia kerja akan mulai dengan gaji antara 5 jutaan hingga 7 jutaan.
Kalau mau menghitung dengan rumus diatas berarti milenials hanya mampu membeli rumah di maksimal harga 216 juta-an.

Makanya rumah123.com menuliskan bahwa pada 2020 nanti hanya 30% dari milenials yang mampu memiliki rumah. Bahkan bila tidak ada perubahan kebijakan dalam waktu satu dekade kedepan hanya 5% yang bisa membeli hunian sendiri. lalu bagaiman SOLUSInya?

Mungkin salah satu caranya harus dengan melihat nilai dasar yang dianut para generasi milenials.

Menurut survei generasi milenials mempunyai nilai kehidupan lebih kepada pengalaman (experience) dibanding nilai keamanan dan kepastian (safety) yang dianut generasi baby boomer atau generasi X.

Buat milenials jalan-jalan ketempat tertentu, makan ditempat tertentu, datang kekonser, berkumpul dengan ‘peer group’ lebih utama daripada mencari pekerjaan tetap yang monoton.

Nilai sudah berubah begitu juga dengan cara pandang.

Apa yang menjadi prioritas bagi generasi sebelumnya bukan lagi prioritas bagi milenials.

Dibeberapa kota besar dunia di Eropa dan Amerika Utara bahkan para milenials sudah tidak mempunyai keinginan lagi memiliki barang-barang seperti mobil, motor, sepeda bahkan barang elektronik rumah tangga.

Di Era sharing economy ini menurut mereka untuk apa memiliki mobil yang harus dirawat dan dibayar pajaknya kalau bisa memakai sesuai kebutuhan melalui aplikasi seperti Uber dsb.

Untuk apa memiliki freezer, kompor lengkap, mesin cuci kalau bisa memesan makanan melalui online setiap saat dan kios laundry dimana-mana.

Jadi para milenials sebenarnya tidak membutuh ruang luas pada huniannya.

Bahkan diprediksi dalam 5 tahun kedepan para milenials tidak membutuhkan garasi dan gudang pada rumahnya.

Kalau membeli mobil saja malas untuk apa memiliki garasi.
Penyewaan gudang akan naik tren nya dalam 5 tahun kedepan di Indonesia.
Di Amerika Utara sudah umum ada penyewaan ‘storage & garage’ di kota-kota besar. Bukan tidak mungkin karena kebutuhan milenials nanti properti jenis ini akan marak juga.

Milenals juga mempunyai kesadaran akan lingkungan yang lebih besar sehingga lebih memilih suplai listrik dari tenaga surya dan pengolahan limbah manusia menjadi biogas.

Jadi kita sudah menghapus ruang garasi, gudang dan dapur masak (hanya untuk memanaskan dan membuat kopi saja). Lalu kita sudah menghilangkan kebutuhan jalan mobil didalam kluster rumah.
Sehingga jalan depan didalam kluster cukup hanya untuk pejalan kaki dan sepeda.

Luas lahan keseluruhan kluster bisa dimanfaatkan untuk taman hijau dan tengki bawah tanah untuk biogas.

Pembuangan dari kloset tiap rumah bisa disalurkan dalam satu tengki sehingga tidak harus membuat septi-tenk setiap rumah yang nantinya malah akan mencemari air tanah.

Sumur air bersih bisa jadi satu dengan sistem ‘center water treatmeant’ sehingga penggunaan air tanah bisa dikontrol.

Dan karena milenials juga lebih memilih menyimpan barang mereka di gudang yang bisa disewa sesuai kebutuhan daripada ditaruh berdebu didalam rumah, developer bisa menyewakan gudang ukuran 2×2 didalam kluster yang pendapatannya bisa mengurangi biaya iuran pengelolaan kluster.

Terdengar utopis seperti dalam buku Thomas Moore?

One Comment on “Sebuah Konsep Tentang Rumah Milenial”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *