Saya Percaya Firasat Saya – Catatan Harian Seorang Broker

Penjualan rumah sudah closing, DP 75jt sudah masuk. Pelunasan menunggu pembayaran rumahnya yang dijual. Tiba-tiba suatu pagi: “Maaf pembelian rumah saya batalkan!!” Ibu ini rela kehilangan 37,5jt. Why????

Saya: Maaf Ibu, mohon dipertimbangkan lagi Bu. Semoga Ibu bisa berubah pikiran

Ibu: Maaf mas. Saya sudah mantap. Malam itu saya Tahajjud, lalu shalat Subuh. Setelah shalat Subuh itu tiba-tiba muncul firasat bahwa saya harus batalkan pembelian rumah ini….

Saya: Sayang Bu, uang sebesar itu hilang.. Barangkali ada jalan keluar Bu

Ibu: Semua orang bilang begitu mas. Suami saya, saudara-saudara saya, ibu saya sendiri juga menyayangkan. Tapi saya percaya dengan firasat saya mas. Sejak dulu saya punya keyakinan firasat saya itu adalah yang terbaik, seringkali ada hikmah lebih besar setelah saya mengikuti firasat saya. Saya mantap mas!!!

Saya: Ibu, saya menghormati keyakinan ibu tentang firasat ibu itu. Namun semua itu harus juga mempertimbangkan unsur maaf-maaf “kedzoliman” misalnya. Itukan dilarang Bu. Bisa mengakibatkan dosa Bu…
Ibu: Saya punya pengalaman tentang firasat saya ini mas. Misalnya …bla..bla..bla…,

Saya: Maaf Ibu, mungkin karena Ibu PNS punya gaji tetap jadi keputusan Ibu tentang firasat ini masih baik-baik saja. Coba kalo swasta seperti saya bisa babak belur Bu. Maaf..

Ibu: Mas. Teman-teman saya banyak yang kaya dari korupsi, tapi kalo saya tidak mau, saya harus percaya firasat ini Mas. Saya juga belum tahu nanti hikmahnya. Tapi biasanya hikmahnya jauh lebih besar dari yang diperkirakan!!!

Saya: Atau gini Bu. Mungkin disana ada Ustadz atau Kyai yang bisa dimintai pendapat tentang “firasat” ibu ini dipandang dari sisi kacamata ilmu agama Bu. Karena kalo kita kan keilmuannya terbatas..

Ibu: Maaf mas. Saya tidak percaya yang ghoib-ghoib, klenik atau magic… (Nah lho???)

Hampir satu jam by phone saya mencoba agar “firasat” bisa dianulir, namun begitulah suka duka seorang marketing yang berhadapan dengan beda orang beda kepala beda otak beda pikiran…..”Iya Ibu. Saya ikhlas dan berusaha mengerti semuanya… Lakum diinukum waliyadin!!”

Ditulis oleh Musa Mlg, Malang, 01/05/2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *