Duit, duit dan duit. Itulah yang ada di otaknya para mafia tanah, isine muk duit tok. Jadi teringat Mr. Krab yang selalu bilang “uang, uang, uang”. Eits, tapi ini bukan saya lho yang bilang, melainkan menurut Erwin Kallo.

Erwin Kallo adalah seorang Pakar Hukum Pertanahan Lembaga Advokasi Konsumen Properti Indonesia, menurut blio, motif para mafia dalam melangsungkan aksinya hanyalah uang.

“Motif dari mafia tanah ini cuma satu (yaitu) uang,” ungkap Erwin dalam webinar “Kupas Tuntas Praktek Mafia Tanah”, Jumat (12/3/2021) silam.

Menurut Erwin, setelah para mafia tersebut mendapatkan tanah yang diincar, mereka menggadaikan atau menjualnya dengan nominal tertentu kemudian pergi hilang begitu saja. Mereka ga punya niatan sama sekali buat menguasai tanah tersebut, cuma pengen duitnya saja. Mainnya hit and run (ambil dan pergi).

“Dia sudah modifikasi, dia jual atau gadai baru kabur. Nah, yang bertengkar nanti pembeli dengan pemilik asli,” terang Erwin.

Fenomena ini kerap terjadi ketika pembebasan lahan antara oknum panitia dengan penerima yang memalsukan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Menurut Erwin, di Indonesia mafia tanahnya sangat banyak, salah satunya pemalsuan sertifikat seperti yang menimpa Ibunda Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal.

Pemalsuan sertifikat tersebut sejatinya memiliki tiga tingkat yaitu pemalsuan blanko, pencurian blanko asli oleh oknum Badan Pertanahan Nasional (BPN), serta pemalsuan warkah tanah.

Pada pemalsuan blanko, hal serupa juga pernah terjadi di Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Di mana ada seorang mafia tanah mencetak blanko secara mandiri.

“Tetapi ya, kami kan sering melakukan audit. Loh ini sertifikat kan biasanya ada burung garuda, (biasanya) garuda ke kanan, nah ini ke kiri. Jadi, dia terbalik kepalanya,” ujar dia.

Kemudian, pernah kejadian di Cianjur, Jawa Barat dimana ada oknum BPN melakukan pencurian blanko asli dan dia mengetik sendiri sertifikat tersebut. Alhasil, sekilas blanko tersebut asli tetapi data yang ada pada sertifikat tersebut ternyata palsu.

Sedangkan hal yang melanda ibunda Dino adalah pemalsuan warkah atau berkas pendukung sertifikat.

“Jadi, yang terjadi kemarin itu (ibu Dino) blanko asli, data asli, namun warkahnya yang palsu. Nah, ini semua banyak macam-macamnya,” tandas Erwin.

Disadur dari kompas.com


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *