Basuki Hadimuljono selaku Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ( PUPR) menyebutkan, mulai tahun 2021 kawasan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah akan direhabilitasi.

“Kawasan lama akan kami rehabilitasi, jadi setelah Kota Lama Semarang, kami juga akan merehabilitasi Lasem. Desainnya sudah selesai dan proyek dimulai pada 2021,” ungkap Basuki setelah pengukuhan Dewan Arsitek Indonesia (DAI) di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Kamis (03/12/2020).

Dalam merehabilitasi Lasem, pemerintah melalui Kementerian PUPR akan melibatkan arsitek lantaran tidak hanya sebagai kawasan budaya, Lasem juga bersejarah karena merepresentasikan keberagaman sekaligus kebhinekaan

Selain sebagai kawasan budaya, Lasem juga bersejarah karena merepresentasikan keberagaman serta kebhinekaan. Oleh karena itu, dalam merehabilitasi Lasem, Kementerian PUPR melibatkan arsitek. 

Arsitek bertugas sebagaimana mestinya yaitu sebagai pembuat desain infrastruktur, sekaligus juga membuat kawasan dan bangunan menjadi lebih estetis, lebih indah, lebih enak dipandang pokoknya. Jadi nantinya juga dapat memberikan nilai dan manfaat tambahan bagi masyarakat.

“Saya minta bangunan-bangunan apa pun seperti jembatan atau bendungan harus melibatkan arsitek. Karena saya sadar tanpa arsitek bangunan-bangunan itu menjadi besi dan beton yang kosong tidak ada rasanya, tidak ada estetikanya,” ucap Basuki.

Fyi, Kementerian PUPR gencar mendorong program penataan kota melalui berbagai pembangunan infrastruktur berbasis pendekatan wilayah lantaran pembangunan kota berkelanjutan dapat menjadi pembangunan yang sanggup untuk mengintregasikan berbagai aspek terutama aspek sosial dan ekonomi.

Namun, juga tidak lupa untuk tetap memperhatikan aspek lingkungan. Penataan kota yang dilakukan Kementerian PUPR pun tidak asal-asalan tetapi juga melalui pengembangan potensi kota seperti aset pusaka kota, kawasan heritage, dan bangunan bersejarah beserta budaya masyarakat.

Sebelumnya, pada tahun 2019 kemarin Kementerian PPUPR telah menyelesaikan rehabilitasi Kota Lama Semarang seluas 22,2 hektar. Program tersebut tidak hanya menjadi pendorong pembangunan Semarang sebagai kota pusaka layak huni dan berkelanjutan tetapi juga turut meningkatkan ekonomi lokal dan sektor pariwisata daerah.

Disadur dari kompas.com


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *