Beberapa pelaku usaha properti mulai bertanya-tanya, ada apakah gerangan dengan perbankan ? Kok masih ga mau menurunkan suku bunga. Padahal kan, Bank Indonesia (BI) sendiri cenderung terus menurunkan BI 7-Day (Reverse) Repo Rate sejak November 2018.

Ali Tranghanda, seorang pengamat bisnis properti berkata, langkah BI itu tak diikuti dengan penurunan suku bunga acuan kredit (SBAK) oleh perbankan.

Ali menyebutkan, SBAK di beberapa bank BUMN untuk kredit pemilikan rumah (KPR) masih cukup tinggi. Ambil contoh saja Bank BTN yang masih mematok bunga 10,5 persen, BRI 9,9 persen, Bank Mandiri dan Bank BNI yang masing-masing sebesar 10,20 persen.

Ali Tranghanda yang juga menjabat sebagai CEO Indonesia Property Watch menilai, penurunan suku bunga akan memberikan harapan bagi para pelaku usaha properti untuk mengurangi beban bunga selama ini. Sama juga seperti harapan masyarakat untuk bisa menikmati bunga KPR lebih rendah lagi sehingga daya beli tetap terjaga.

Penurunan BI 7-Day Repo Rate sebagai acuan, menurut Ali,  hampir ga ada manfaatnya. Soalnya, bunga KPR perbankan masih berada di posisi yang cukup tinggi dan belum juga terlihat adanya penurunan yang signifikan.

“Harusnya perbankan bisa lebih mengedepankan kewajaran dengan juga ikut menurunkan suku bunga mereka. Karena selama ini menurunnya BI 7-Day Reverse Repo Rate tidak selalu diikuti dengan penurunan suku bunga perbankan,” ungkap Ali pada sebagaimana dilansir dari Bisnis.com, Kamis, 27 Agustus 2020.

Soal banyaknya pihak perbankan yang beralasan bahwa cost of fund yang masih tinggi dan risiko yang juga tinggi sehingga bunga belum turun, Ali menganggap, tanpa adanya keringanan dalam situasi dan kondisi saat ini malah risiko kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) justru makin tinggi.

 “Bila tidak ada penurunan suku bunga oleh perbankan, justru risiko NPL akan semakin tinggi menyusul menurunnya daya cicil dari konsumen dan pelaku bisnis. Artinya pihak perbankan harus dapat membantu kondisi konsumen dan pelaku bisnis dengan mengurangi beban dari bunga,” ucap Ali menegaskan.

Fyi, perbankan diminta oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk mewaspadai kinerja NPL per Juni 2020 mencapai 3,11 persen atau naik dibandingkan Mei 2020 yang 3,01 persen, tertinggi ada di kelompok bank skala kecil dan menengah.

Maka dari itu, Ali berharap perbankan segera menurunkan suku bunganya, jangan sampai momentumnya hilang tapi eh malah pasar terlambat untuk dapat merespons dengan baik.

Disadur dari rumah.com


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *