Dari dulu sejak jaman baheula yang selalu jadi kendala program perumahan kita itu ya duit. Duit, duit dan duit, kalau kata Naike just duit. Permintaan pasar soal rumah itu kan gede ya, makanya dibutuhkan berbagai alternarif pembiayaan biar program perumahan bisa lancar jaya dan bisa memberikan akses pembiayaan yang luas kepada kalangan MBR.

Tempat tinggal atau hunian merupakan salah satu dari kebutuhan primer seperti pangan dan sandang. Kan papan sandang pangan, papan itu maksudnya ya rumah. Besarnya kebutuhan hunian belum dibarengi dengan daya beli maupun aksesibilitas terhadap pola pembiayaan perumahan khususnya untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Di sisi lain, budget pemerintah buat subsidi program perumahan juga sangat terbatas. Akhirnya, program dari pemberintah tidak bisa mengejar kebutuhan perumahan karena sisi suplai dan demand yang timpang dan ini pula yang bikin angka defisit (backlog) perumahan kita makin besar. Maka dari itu, dibutuhkan pola maupun berbagai macam alternatif model pembiayaan buat sektor perumahan yang sampai detik ini masih sangat terbatas.

Menurut Nixon P. Napitupulu, Direktur Finance, Plannning & Treasury Bank BTN, alternatif pembiayaan untuk pembangunan perumahan sangat dibutuhkan biar bisa kebutuhan perumahan yang besar bisa terpenuhi dan angka backlog menurun.

“Kita realistis saja, kalau mengandalkan dana pemerintah untuk program perumahan sampai kapanpun problem perumahan kita tidak akan pernah selesai. Karena itu dibutuhkan langkah yang lebih terarah sebagai solusi khususnya untuk pembiayaan perumahan yang lebih jangka panjang,” kata dia.

Tahun ini Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) sudah masuk ke tahap pelaksanaan teknis dengan telah rilisnya PP No. 25 Tahun 2020. Tapera ini bisa jadi alternatif dan mengurangi porsi dana subsidi dari pemerintah.

Nixon juga menyebut, terbatas anggaran pemerintah sudah kelihatan sejak 2016 lalu soalnya tren dana subsidi pemerintah buat program perumahan terus menurun. Walaupun pada tahun 020 ini ada kenaikan buat program subsidi selisih bunga (SSB) sebanyak 175 ribu, tapi secara umum budget pemerintah memang terbatas sehingga alternatif lain tetap dibutuhkan.

Mau mengandalkan dari dana bergulir program KPR subsidi fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) juga bakalan lama banget. Program secondary mortgage dari PT Sarana Multigriya Finansial (Persero/SMF) pun juga sama saja soalnya hingga saat ini pengelolaan dananya belum begitu besar.

“Pandemi Covid-19 juga membuat ada perebutan penggunaan anggaran pemerintah khususnya untuk meningkatkan anggaran kesehatan sehingga program untuk sektor perumahan pastinya akan lebih terbatas lagi. Karena itu berbagai alternatif pembiayaan sangat dibutuhkan dan Tapera bisa memulai itu,” terang Nixon.

Disadur dari rumah.com


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *