Setelah tertidur selama kurang lebih 4 bulan lamanya gara-gara tekanan si corona kini bisnis properti mulai bangkit, menggeliat dulu buat ngumpulin nyawa. Bangkitnya bisnis properti pun mendapat dukungan dengan relaksasi kebijakan pemerintah.

Namun, pihak Real Estate Indonesia (REI) mengharapkan agar pemerintah memberikan tambahan relaksasi buat sektor properti.

Paulus Totok Lusida selaku Ketua Umum DPP REI bilang, upaya pemerintah memberikan relaksasi buat sektor properti mulai menampakkan hasil. Setelah beberapa bulan ini tertekan, dunia properti residensial tampak mulai menggeliat. Hal itu dapat dilihat dari meningkatnya minat untuk rumah di bawah Rp 1,5 miliar.

“Memang dengan adanya relaksasi dan new normal, mulai ada peningkatan pertumbuhan. Jadi kalau sebelumnya yang laku hanya rumah sederhana, sekarang mulai ada peningkatan pada segmen dengan nilai di bawah Rp1,5 miliar,” ujar Paulus, sebagaimana dilansir dari Bisnis.com, Senin, 7 September 2020.

Paulus membeberkan, para pelaku industri properti bagaikan kena bogem mentah Mike Tyson selama 4 bulan masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) kemarin. Bagaimana tidak, lha wong performa bisnis properti di segmen usaha mal turun 85 persen, hotel anjlok 95 persen, perkantoran menurun 74,6 persen, dan perumahan komersil berkurang sekitar 50 persen sampai 80 persen.

“Penjualan bisa dikatakan tidak menghasilkan pendapatan, sementara mereka tetap harus menanggung beban dari sisi pengeluaran. Seperti biaya langganan listrik, cicilan bunga dan pokok ke perbankan, termasuk biaya operasional karyawan karena pemerintah melarang pemutusan hubungan kerja (PHK). Tidak ada yang free. Khusus rumah masih tertolong karena masih ada yang subsidi pemerintah,” ujar Paulus.

Seperti yang sudah disampaikan tadi diawal tadi, Paulus berujar, Rei berharap pemerintah memberikan tambahan relaksasi untuk sektor properti. Relaksasinya bisa berupa pengurangan PPh Badan, penghapusan PPh21, Penurunan PPh final sewa dari 10 persen menjadi 5 persen, sampai penurunan PPh final transaksi dari 2,5 persen menjadi 1 persen berdasarkan nilai actual transaksi dan bukan berdasarkan NJOP (nilai jual Objek Pajak).

Saat ini, Paulus melanjutkan, mau ga mau pelaku industri properti harus siap buat melakukan perubahan sistem, strategi dan konsep hunian buat menyesuaikan dengan habit konsumen dan kebutuhan baru konsumen di masa new normal.

“Dari sisi pemasaran, mereka harus mampu membuat sinergi antara strategi virtual dengan non virtual. REI sendiri sudah berencana membuat sebuah pameran khusus yang melibatkan anggota-anggotanya yang terseleksi Oktober mendatang,” ujar Paulus.

Disadur dari rumah.com


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *