Pandemi Covid-19 ini adalah sefruit musibah yang bikin susah, namanya juga musibah sabar aja ya nanti juga udahan kok. Tapi pemerintah juga tidak tinggal diam, di tengah pandemi ini pemerintah memberi sejumlah stimulus pada sektor properti.

Stimulus ini juga tertuang dalam Perpres No. 82/2020 tentang Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Lha terus, komite tersebut tugasnya ngapain ? Nah komite ini bertugas dalam hal percepatan penanganan Covid-19 serta pemulihan perekonomian dan transformasi ekonomi nasional.

Dalam hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada tanggal 15-16 Juli 2020 kemarin, BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) turun 25 bps menjadi 4 persen. Penurunan ini tercatat sebagai rekor suku bunga acuan paling rendah sepanjang sejarah, bahkan sejak adanya BI7DRR.

Perihal tersebut, Commercial and Business Development Director AKR Land Alvin Andronicus menyatakan bahwa stimulus yang dikasih sama pemerintah saat ini masih berupa penurunan suku bunga repo yang menjadi 4 persen.

Namun, Alvin melanjutkan, umumnya masih belum dibarengi dengan penurunan suku bunga oleh bank-bank yang memberi kredit pemilikan rumah (KPR) dengan bunga yang rendah juga.

 “Dengan masa pandemi ini lumayan banyak pihak perbankan yang terlalu selektif dan memberi persyaratan kepada calon kreditur yang cukup ketat,” kata Alvin, sebagaimana dikutip dari Bisnis.com, Selasa, 4 Agustus 2020.

Alvin menilai, pihak bank yang terlalu selektif bikin konsumen properti menunda pembelian alias ga jadi closing deh. Apalagi kekurangan pasok hunian atau backlog masih sekitar 11 juta unit atau direncanakan target 1,5 juta unit per tahun masih belum tercapai.

“Oleh karena itu, pemerintah harus tetap memberi stimulus seperti halnya FLPP [fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan] yang lebih besar dan bunga ringan,” kata Alvin.

Menurut Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch, saat ini stimulus relatif masih belum jalan.

“Meskipun dimungkinkan relaksasi kredit bank, prosesnya pun lama dan sangat ketat,” ungkap Ali.

Ali menyebutkan, pihaknya mendorong supaya insentif pajak pembelian sebesar 5 persen dan penjualan properti sebesar 2,50 persen dapat dikurangi dalam kondisi ini supaya investor dapat lebih ringan dan membuat properti lebih menarik di situasi sekarang.

“Pajak pembelian harusnya bisa 2,50 persen, pajak penjualan 1,50 persen,” kata dia.

Disadur dari rumah.com


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *