Sebenarnya strategi jualan properti yang bisa cepet laku itu cuma satu. TEPAT SASARAN! Nah, itu yang kadang tidak mudah. Dengan berbagai “senjata” yang dibawa oleh seorang marketing, masih juga gak closing-closing. Bossnya puyeng, marketingnya juga gliyeng karena income gak masuk-masuk. Coba telaah lagi yuk .

Tahu Siapa Target Marketmu

Ini yang kerap keliru juga. Banyak rekan kita di marketing properti bahkan si developernya pun kadang gak tau target marketnya. Kita musti break down dengan jelas agar kita gak miss dalam menentukan strategi. Kira-kira siapa yang bisa beli propertimu itu, usianya berapa, udah menikah atau belum, nongkrongnya dimana.

Tentu jawaban di atas tidak hanya 1 jawaban saja. Bisa jadi ada beberapa jawaban. Berbekal data di atas, setidaknya kita bakal tau tuh siapa yang bakal kita hadapi dan dengan bahasa yang seperti apa.

Buat Promosi Yang Tepat

Kan di atas kita udah tau tuh siapa target market kita. Jadi kurang lebihnya kita juga akan tau bahasa yang pas untuk mereka. Ekstrimya begini, kita punya produk FLPP, tapi gaya komunikasi kita bak sekuter, selibritis kurang terkenal. Kurang pas rasanya.

Sebaliknya demikian, kita punya produk yang di atas rata-rata, trus promosi kita yang ditonjolkan hanya harga rumahnya saja. Kan juga kurang pas.

Misalnya lagi kita menyasar kepada kaum milenial, tapi masih ngiklan pake koran dengan bahasa gaul. Kurang pas. Bisa pas misalnya kita menyasar kaum milenial, tapi yang kita “tembak” iklannya adalah orang tuanya, maka kita tempatkan iklan kita di koran dengan bahasa khas orang tua.

Nah tentang promosi ini juga terkait erat dengan budgeting. Hitung-hitung juga, jangan sampe boncos gaes. Tapi sekali-kali boncos juga boleh. Buat belajar. Heheheh.

Jangan Lupa Direct Selling, Canvassing, Networking

Ini old fashion style of selling tapi masih powerful banget. Aseli! Kenapa? Karena tidak semua orang yang kita coba sasar dengan media promosi akan mendapat informasi dari kita. Apalagi dunia ini sekarang sudah menjadi tempat sampah informasi alias informasi setiap hari hadir.

Bayangin aja, misal teman di Facebook kita ada 5000. Semuanya bikin status. Sempatkah kita baca satu per satu?

Nah ini pentingnya direct selling. Menyapa satu per satu. Say hello. Ajak bicara. Cari kebutuhannya. Minimal kamu menjalin silaturahim. Syukur-syukur bisa menjadi networking. Teman kamu bisa bawa kamu ke institusinya yang mungkin mau beli properti untuk seluruh karyawannya atau sekedar merekomendasikan kepada temannya untuk membeli properti di kamu.

Follow Up

Jujur aja, ini sering kelupaan. Udah nyebar iklan kemana-mana, udah networking kemana-mana, bahkan udah ada yang nanya-nanya. Tapi abis itu sok sibuk dan lupa untuk follow up. Sepele sih, tapi kl gak dilakuin, boncos lah!

Tapi di masa pandemi gini, gimana mau jualannya? Kan ada online. Semua cara di atas bisa dilakukan secara online. Gak perlu khawatir gaes!


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *