Membuka perumahan atau bisnis properti lainnya itu gak bisa asal-asalan buka. Asal dapat tanah terus langsung dijual. Enggak gitu. Kamu musti bikin proyeksi bisnisnya dulu seperti apa. Dan menilai dengan indikator apakah proyek layak untuk dikerjakan atau tidak. Nah apa sajakah 4 indikator itu?

01. Profit Margin Bisnis Properti

Profit margin itu adalah prosentase profit atau laba dibanding dengan omzet penjualan kamu. Misalkan omzet kamu 1,5 milyar sedangkan rencana profitmu adalah 300 juta, maka profit marginmu adalah 20%. Apakah ini layak?

Nah kalau menilik standar kelayakannya sih gak ada. Teori di buku, kalau profit marginmu di atas 0%, berarti proyek akan dianggap layak. Tapi apakah kamu mau proyekmu cuma memberikan keuntungan 0,1%? Bisa jadi sih. Maka untuk layak atau tidaknya, kamu perlu bersandar kepada rata-rata industri, keinginan kamu serta intuisimu.

Profit margin juga hanya merupakan salah satu dari empat indikator. Yang ini bagus, belum tentu yang lain juga menunjukkan layak lho.

02. Return of Investment (ROI) Bisnis Properti

Return of Investment atau tingkat pengembalian atas investasi adalah berapa uang yang dihasilkan dalam bentuk prosentase atas modal yang ditanamkan dalam sebuah investasi. Ada ROI per annual atau per tahun, ada ROI per proyek. Contoh kasusnya berikut.

Misalnya omzet 1,5 milyar. Masa waktu proyek diperkirakan 3 tahun. Modal yang dibutuhkan adalah 500 juta. Profit yang ditargetkan adalah 300 juta. Maka ROI proyek adalah Profit dibagi dengan modal, 300 juta dibagi 500 juta, sama dengan 0,6 atau 60%. Maka ROI Proyek adalah 60%.

Karena proyek direncanakan selama 3 tahun, maka ROI Proyek dibagi 3 tahun, menjadi 20%. Berarti ROI per annual atau per tahun adalah 20%. Pertanyaannya apakah proyek layak dilaksanakan?

Untuk menjawab ini kamu perlu bandingan dengan investasi pada instrumen investasi lainnya semisal emas, deposito, suku bunga kredit, bisnis lain dll. Kalau teorinya sih ROI di atas 0% adalah layak. Kembali lagi, masak iya kamu modal 500 juta gak dapat kembalian apa-apa? Maunya sih kan nambah.

03. Break Event Point (BEP) Bisnis Properti

BEP atau disebut titik impas merupakan kondisi dimana seluruh biaya tercover dari omset sehingga profitnya menjadi nol. Ini adalah kondisi “bakbuk” alias impas. Biasanya dihitung dengan unit. Gampangnya gini, kamu harus jual berapa unit agar semua biayamu dapat dibiayai.

Misalnya di proyekmu, kamu menjual 6 unit rumah dengan harga masing-masing 250 juta. Kemudian total biaya bahan baku dan administrasi adalah 900 juta. Maka BEP akan dicapai apabila omset mencapai 900 juta. Jadi apabila harga 1 unit rumah 250 juta, maka BEP akan didapatkan saat 4 unit rumah sudah terjual. Dan pada saat unit ke-5 dan 6 terjual, maka disitulah terkandung keuntunganmu.

04. Payback Period Bisnis Properti

Payback periode artinya kapan atau dalam jangka waktu berapa lama modal investasi bisa kembali. Payback periode perlu diterjemahkan ke dalam arus kas yang lebih mendetail.

Misalnya, total biaya yang kamu keluarkan di awal adalah 700 juta untuk estimasi lama proyek 2 tahun (24 bulan). Kemudian arus kas yang masuk dalam waktu 24 bulan tersebut adalah 41,6 juta. Maka payback period adalah biaya dibagi arus kas atau 700jt : 41,6jt = 16,8 bulan. Artinya setelah bulan ke-17 maka proyekmu bisa berjalan tanpa modal.

Payback period ini makin cepat semakin bagus tentunya.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *