Kaum milenial rupanya berperan besar terhadap perlambatan aktivitas penjualan properti yang diakui sejumlah developer. Mengapa demikian?

Melambatnya aktivitas penjualan properti ternyata tidak hanya berasal dari kondisi ekonomi makro, seperti pelemahan niali tukar rupiah atau hambatan dari serentetan pengurusan perizinan yang rumit dan panjang. Begitupun faktor kenaikan harga sebagai dampak harga tanah yang juga melonjak.

Adapun faktor lainnya seperti karakteristik generasi milenial yang lebih menyukai tinggal di hunian sewa dibandingkan membeli rumah, juga ditengarai menjadi salah satu penyebab mengapa tingkat penjualan properti nasional mengalami perlambatan.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk., Maryono mengatakan, bahwa generasi ini lebih memikirkan kehidupan dan tempat tinggal secara sementara. Padahal, menurut perkiraan Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR, Khalawi Abdul Hamid, jumlah milenial di Indonesia saat ini mencapai 81 juta jiwa.

Ia mengatakan, untuk membangun program rumah bagi generasi milenial harus diarahkan kepada rumah vertikal atau rumah sederhana bersubsidi. Menurutnya, hunian sewa adalah yang paling pas untuk generasi milenial karena sifat mereka yang dinamis dan konsumtif.

“Tertutama di pusat kota dengan full WiFi. Jadi kehidupan milenial yang seperti itu,” ungkapnya. Sementara itu Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia menunjukkan adanya perlambatan kenaikan harga properti residensial di pasar primer selama kuartal II/2019. Perlambatan kenaikan harga properti residensial terjadi pada semua tipe rumah.

Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal II/2019 hanya mampu tumbuh 0,20% secara kurtalan dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 0,49%. Volume penjualan properti residensial pada kuartal II/2019 tercatat mengalami kontraksi pertumbuhan -15,90% (q-t-q), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 23,77% (q-t-q).

Adapun penurunan penjualan properti residensial disebabkan oleh penurunan penjualan pada rumah tipe kecil dan rumah tipe menengah. Sejumlah faktor yang juga ditengarai menjadi penyebab penurunan tersebut adalah melemahnya daya beli, suku bunga KPR yang cukup tinggi, serta tingginya harga rumah.

Selama beberapa tahun ke depan, tren hunian di Indonesia sedikit demi sedikit memang akan bergeser menjadi sewa tinggal. Pasalnya, generasi milenial memiliki daya tarik dan gaya hidup yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Gaya hidup milenial yang instan, tidak ribet, fleksibel serta berharap memiliki fasilitas lengkap dalam satu lingkungan mendorong lahirnya tren ini.

Para milenial lebih suka tinggal dalam satu hunian yang memiliki fasilitas lengkap dan instan. Di sisi lain, gaji yang naiknya tidak sepadan dengan kenaikan harga rumah juga mendorong tren ini lahir. Faktanya, harga properti selalu lebih tinggi dibandingkan dengan penghasilan. Kenaikan harga properti setiap tahun mencapai 17%, tidak sebanding dengan kenaikan rata-rata gaji yang hanya mengalami kenaikan sebesar 10%. (Sumber: Rumah.com)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *