Telah terjadi perlambatan kenaikan harga properti residental di pasar primer selama kuartal II/2019. Kondisi ini diketahui dari adanya survey harga properti residental Bank Indonesia yang menunjukkan kondisi demikian.

Terjadinya perlambatan kenaikan harga properti residental ini ada pada semua tipe rumah. Dari sisi indeks harga properti residental (HPR) di kuartal II/2019 tumbuh sebesar 0,20% secara kuartalan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yaitu 0,49%.

Volume penjualan properti residensial pada kuartal II/2019 tercatat mengalami kontraksi pertumbuhan -15,90% (q-t-q), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 23,77% (q-t-q).

Adapun penurunan penjualan properti residensial disebabkan oleh penurunan penjualan pada rumah tipe kecil dan rumah tipe menengah. Sejumlah faktor yang ditengarai menjadi penyebab penurunan tersebut adalah melemahnya daya beli, suku bunga KPR yang cukup tinggi, serta tingginya harga rumah.

Menurut survei tersebut, diproyeksikan kenaikan harga rumah akan meningkat pada kuartal III/2019 sebesar 0,76% (kuartalan). Dari sisi konsumen, pembeli properti residensial sebagian besar masih menggunakan fasilitas KPR sebagai sumber pembiayaan utama.

Kondisi stagnasi pasar properti tersebut juga diamini oleh Asosiasi pengembang Real Esat Indonesia (REI). Ketua Umum REI, Soelaeman Soemawinata menuturkan, hingga akhir tahun ini pasar properti memang belum akan banyak bergerak. Padahal periode krusial yang membuat masyarakat menahan investasinya seperti pemilu dan lebaran telah berlalu.

Menurut analisisnya, Eman menyebut bahwa belum banyak pihak yang berinvestasi di sektor properti lantaran terhalang dengan beragam risiko. Diantaranya perkara harga, pajak, hingga dampak dari gejolak perekonomian. “Oleh karena itu, sekarang ini, kita punya tugas untuk bersama-sama dengan pemerintah dalam membongkar mental para konsumen. Kita harus dorong mereka, karena secara psikologis mereka masih belum mau berinvestasi,” jelasnya.

Selain itu tidak bisa dipungkiri bahwa pergerakan mungkin hanya terjadi untuk segmen masyarakat end user di harga Rp300 juta sampai Rp400 juta. Harga properti di segmen tersebut mungkin akan sulit naik. Namun pengembang bisa menyiasatinya dengan mengecilkan ukuran rumah.

Sejauh ini, lanjut Eman, sejumlah pengembang memang sudah mulai mempersiapkan proyek setelah menunda waktu peluncuran. Hal ini yang diharapkan membawa sedikit pertumbuhan bagi pasar propeerti hingga akhir tahun. (Sumber : Rumah.com)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *