Itulah yang membedakan pengusaha dan bukan pengusaha. Ketika terjadi hal-hal bersifat resiko atau tidak terduga yang mengecewakan, kita tidak akan berkata :”saya tanya atasan saya dulu”..

Apalagi pengusaha PENGEMBANG PROPERTI.

Dia berurusan dengan legalitas kepemilikan tanah dalam hal ini adalah Badan Pertanahan Nasional (BPN). Ada beberapa struktur kepemimpinan di BPN dan Pengembang harus memahami nya, ketika terjadi “keterlambatan atau masalah” , mau tidak mau harus segera memonitor..

Belum lagi urusan dengan Pemerintah Daerah yang di dalamnya berbagai dinas perizinan baik Dinas PUPR, Lingkungan Hidup, Perairan, IMB, Pemukiman dll

Sambil terus melakukan dan memenuhi ketentuan Perbankan (bidang Kredit Konstruksi, KPR konsumen dan berbagai pihak dalam perbankan)

Belum lagi persaingan kompetisi PASAR dalam penjualan serta berbagai hal lainnya.

Tidak bisa dipungkiri, Pengembang Properti adalah bisnis PADAT MODAL, PADAT PIKIRAN dan perlu PADAT JARINGAN.

Itulah sebabnya terkadang bila kita melihat di satu proyek pengembang, walaupun dia sebagai LAND OWNER tetapi Pengembang menyerahkan PEMBANGUNAN, PENJUALAN, PERIZINAN, LEGALITAS bahkan PENGAWAS PEMBANGUNAN kepala pihak-pihak lain sehingga Pengembang fokus dalam hal-hal seperti

PEMBEBASAN dan terus melakukan PEMBEBASAN LAHAN serta PENJUALAN

Untuk proyek yang sudah berbagai titik dengan skala ratusan unit per titik, sebaiknya BERBAGILAH sehingga kita fokus EKSPANSI BISNIS.

Kita bicara bisnis pengembang properti , bicara PEMBEBASAN lahan dan PENJUALAN

Penulis : Riska Martina, Owner Hekaland. www.RiskaMartina.com

Categories: Blog Properti

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *