Beberapa waktu lalu ramai isu pajak progresive untuk kepemilikan properti lebih dari satu. Ini merupakan salah satu rencana kebijakan Presiden Jokowi untuk mendukung sumber pendapatan, yang akan membiayai APBN 2020. Ramailah kebijakan ini mendapatkan reaksi dari berbagai orang yang “berkepentingan” dengan dunia properti. Mulai dari toko bangunan, agen properti, developer, dan lembaga keuangan pasti ada kekuatiran.

Menurut CEO PT BPR Karya Artha Sejahtera Indonesia, Rio Christian, kita seharusnya tidak perlu khawatir.

“Justru kalau kebijakan ini terealisasi, akan merubah mindset semua yang terlibat di dalam bisnis properti dalam memandang apa sih bisnis properti”, terang Rio dalam status Facebooknya

Rio yang juga pemilik komplek vila The Royal Bali Villas Canggu ini menjelaskan bahwa setidaknya ada 4 alasan mengapa kita jangan beli properti. Namun dengan catatan-catatan. Simak catatan beliau.

  • Jangan beli properti, kalau hanya untuk bisnis spekulasi. Inilah alasan yang membuat banyak orang sakit kepala. Akibat kebanyakan baca buku atau ikut seminar properti, banyak orang mau praktek “the power of flip” dikombinasi dengan “the power of leverage”. Ilmu ini tidak salah dipraktekkan, jika beneran memiliki kemampuan ilmu finansial yang baik, serta memiliki kemampuan bayar riil yang kuat.
  • Jangan beli properti, kalau bukan sebagai rumah pertama. Menurut Rio, penting banget, kita dapat memiliki rumah pertama. Jadi kita kerja keras, minimal untuk memenuhi kebutuhan dasar berupa rumah. Bahaya kalau malah terus-terusan menjadi “kontraktor” (berpindah-pindah rumah kontrak). Usia semuda mungkin, wajib segera beli rumah pertama. Idealnya beli cash. Bila tak sanggup maka dapat membeli melalui KPR atau cash bertahap.
  • Jangan beli properti, kalau tidak mendatangkan arus pendapatan riil. Sering banget orang tersesat di bisnis properti karena ilusi ”beli properti pasti untung”. Riilnya ilusi tersebut sudah makan banyak korban. Contoh riil, berapa banyak kredit macet akibat kredit di bidang properti di bisnis BPR saat ini?. Menurut Rio, beli propert itu untung, kalau bisa mendatangkan arus pendapatan. Minimal pendapatan tersebut sesuai untuk dipakai membayar utang ke bank. Jangan hitung untungnya, kalau properti-nya sudah berhasil dijual. Kalau terlalu lama tidak berhasil dijual dijual, sampai ujungnya dompet bisa kebobolan, nah!
  • Jangan beli properti, kalau tidak punya pengalaman mumpuni sebagai developer. Belakangan ini banyak informasi tentang konsumen properti yang tidak mendapatkan rumahnya, karena proyek tidak selesai dan developernya menyerah. Ini adalah salah satu yang membuat NPL BPR tinggi. Beberapa tahun lalu, banyak banget developer pemula hadir dalam bisnis properti. Saat kondisi ekonomi baik, hal itu lumrah. Tapi kalau situasi sedang tidak terlalu bagus, sebaiknya jangan coba-coba ikut jadi developer. Nanti ujungnya stress jika tidak kuat konsep bangunan, konsep pemasaran dan konsep pembiayaan.

Bisnis atau berinvestasi di properti itu bagus, kalau memiliki ilmu dan kemampuan yang memadai.

Penulis : Rio Christian, Chief executive officer at PT BPR Karya Artha Sejahtera Indonesia. Disadur oleh tim YukBisnisProperti.org


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *