PRELAUNCH MARKETING

Manteman,

Coba baca berita ini..

https://sport.tempo.co/amp/1149930/kisah-deontay-wilder-soal-putrinya-dan-motivasi-jadi-juara-dunia?__twitter_impression=true

Sekilas ini semata-mata hanya sebuah artikel bernuansa motivasi.

Memang jika dibaca akan sangat menyentuh hati, menggugah emosi, dan membangkitkan motivasi.

Sangat positif.

Tapi jika diamati lebih teliti, ternyata dengan sangat halus telah dititipkan pesan-pesan pemasaran di dalamnya.

Dengan sedikit riset kita tau bahwa Deontay Wilder, saya juga baru baca namanya, sang tokoh dalam artikel itu adalah seorang petinju yang akan bertanding tanggal 02 Desember nanti dengan lawannya Tyson Fury.

Kalau Anda membaca artikel tadi, tidakkah menjadi penasaran untuk menyaksikan pertandingan tersebut?

Nah, inilah yang mungkin hari-hari ini sering disebut dengan PRELAUNCH MARKETING.

Tujuannya adalah membangun awareness dan memanaskan target audience atau target market sebelum produk dijual.

Caranya ya gitu soft banget. Cirinya selalu menstimulasi emosi sehingga membuat penasaran. Kalo sudah penasaran? Sampai matipun akan kuperjuangkan bukan?

Emang mereka di sana itu jago-jago dalam soal beginian.

Pola ini sering banget dipake oleh film-film Hollywood. Filmnya baru bakal tayang setahun lagi, nah dari sekarang udah ditunggu orang.

Pas launching ya membludag yang nonton. Filmya bagus? Lom tentu. Kadang-kadang penonton kuciwa karena tidak sesuei harapan.

Lah kan marketing itu kompetisi membangun persepsi dan bukan reality? Hehe

Nah, gimana menerapkannya dalam properti?

Coba kita contek aja campaignya si Deontay Wilder itu.

Mulai dengan pertanyaan, what is the story behind you or your product?

Misal aja, bahwa sebuah cluster, katakan namanya GREEN TESSERA, dibangun karena ownernya pernah punya pengalaman menyedihkan dengan rumah. Dulu pernah ngontrak berpindah-pindah. Sempet diusir sama pemilik karena nunggak.

Akhirnya dia bercita-cita membantu orang untuk punya rumah.

Nah, tapi story-nya harus asli loh ya. Dipoles untuk kepentingan kenyamanan pembaca boleh. Tapi ya jangan bohong. Itu satu.

Kedua, ya di situ kita belum boleh jualan. Biar si cerita kita itu aja dulu yang jualan.

Kira-kira gitu.

Punya contoh lain menerapkannya dalam bisnis atau pemasaran properti? Silahkan ya gaesss..

Zidni Ilman
Presiden Yukbisnisproperti Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *