Apa bedanya kedua mazhab jualan di judul?

Kesimpulan Saya..

Selain dalam hal pendekatan, perbedaan signifikan keduanya terletak pada tingkat konversi.

Begini ceritanya..

Apakah salah melakukan hardselling? Apakah salah menyatakan cinta langsung kepada lawan jenis yang baru ditemui? Tidak juga.

Sebab bisa saja terjadi yang namanya “falling in love at the first sight” alias jatuh cinta pada pandangan fertama.

Masalahnya.. Apakah gayung bersambut atau bertepuk sebelah tangan. Itu dia.

Kalau saja target market merasakan getaran yang sama, tentu pucuk dicinta ulam pun tiba. Tapi jika tidak? Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai !

Apa maksud semua peribahasa ini?

Bukan tidak mungkin harselling akan menghasilkan penjualan. Tetapi bisa jadi probabilitasnya lebih rendah. Kenapa? Sebab pasar belum matang tergarap. Belum siap dikonversi sehinggaaa.. tingkat konversinya juga rendah.

Artinya.. bisa jualan cepet tapi lakunya sedikit.. capeknya? Bisa jadi lebih atau minimal sama dengan jika kita melakukan deep selling.

Dalam deep selling, yang kita lakukan sebaliknya. Nggak langsung jualan tapi membangun dulu kedalaman dengan :

✓ kenalan dulu
✓ pendekatan dulu
✓ bangun crowd dulu
✓ bagi manfaat dulu

Sesudah itu semua, sesudah terbangun ikatan emosional, baru berikan penawaran dalam bentuk solusi. Kita menawarkan solusi bagi sahabat-sahabat kita. Bukan produk.

Kalau sudah kenal, sudah dekat, sudah berkelompok, sudah beri manfaat, dan seterusnya, bisa jadi tanpa penawaran pun akan terjadi transaksi. Inisiatif bisa jadi hadir dari pasar. Miracle? Bisa jadi karena kita berinvestasi kebaikan.

Satu lagi, dengan komunitas manfaat yang Anda bangun, probabilitas tentu menjadi semakin besar. Bukan hanya orang per orang yang Anda layani, tapi sekelompok orang sekaligus. Tingkat konversi tentu lebih tinggi.

Nah, ini butuh waktu dan usaha. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian.

So, tidak ada yang salah dari dua aliran di atas. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Tinggal menerapkan the right approach at the right time.

Demikian. Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalau ada umurku panjang, boleh kita bertemu lagi.

BTW :

Istilah DEEP SELLING saya kenal dari Coach Harry Afandy di kelas HOW TO SELL PROPERTY EXPERT. Thx Coach..

Zidni Ilman
Presiden Yukbisnisproperti Indonesia

Categories: BlogMarketing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *