Properti Sewaan Akan Makin Menggiurkan

Meski properti bisa dimanfaatkan bukan untuk sekedar tempat tinggal, namun kebutuhan properti untuk tempat tinggal di Indonesia ini masih sangat tinggi. Data yang dikutip dari situs PPDPP Kemenpera (Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Indonesia), backlog tahun 2015 berkisar 11,4 juta penduduk berdasar data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Sedangkan yang menjadi baseline PPDPP Kemenpera adalah 7,6 juta penduduk dan ditargetkan akan turun 5,4 juta penduduk.

Penurunan backlog adalah prestasi pemerintah yang perlu kita apresiasi. Namun nantinya masih ada 5,4 juta penduduk yang masih belum punya rumah di tahun 2019. Dimanakah mereka akan tinggal? Bisa jadi tinggal di tempat mertua atau orang tua. Bisa jadi mereka akan menyewa rumah untuk tempat tinggal mereka. Nah di sinilah peluangnya.

Dan peluang ini akan makin membesar. Mari kita bandingkan harga rumah bersubsidi tahun 2008 dengan harga rumah bersubsidi tahun 2018. Pada tahun 2008 harga tertinggi rumah bersubsidi adalah 55 juta. Sedangkan harga rumah bersubsidi tahun 2018 variatif dari 130 juta sampai dengan 148,5 juta, tergantung daerahnya.

Mari kita bandingkan harganya. Kita gunakan harga terendah di tahun 2018 maka selisih harga tahun 2008 dengan 2018 adalah sebesar 75 juta. Bila kita hitung inflasi properti dalam kurun waktu 10 tahun, maka per tahun properti naik sebesar 7,5% untuk rumah bersubsidi.

Inflasi properti tersebut akan menarik bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Laju pertumbuhan ekonomi dapat kita asumsikan sebagai laju pendapatan per kapita Indonesia. Gampangnya penghasilan kita tumbuh berapa persen setiap tahunnya.

Nah data yang mudah terkonfirmasi didapat dari mesin pencari dengan kata kunci “laju pertumbuhan ekonomi 2008 2018”. Sayangnya data yang mudah didapatkan dan terkonfirmasi dengan baik hanyalah data laju pertumbuhan ekonomi tahun 2010 sampai dengan 2017 dari situs berita nasional yang juga mengutip data dari BPS. Data laju pertumbuhan ekonomi Indonesia 2010-2017 sebagai berikut :

  • Tahun 2010, laju pertumbuhan ekonomi 6.81%
  • Tahun 2011, laju pertumbuhan ekonomi 6.44%
  • Tahun 2012, laju pertumbuhan ekonomi 6.19%
  • Tahun 2013, laju pertumbuhan ekonomi 5.56%
  • Tahun 2014, laju pertumbuhan ekonomi 5.02%
  • Tahun 2015, laju pertumbuhan ekonomi 4.79%
  • Tahun 2016, laju pertumbuhan ekonomi 5.02%
  • Tahun 2017, laju pertumbuhan ekonomi 5.07%

Dari data di atas maka pertumbuhan ekonomi Indonesia naik berkisar 5,61% rata-rata dalam kurun waktu 8 tahun. Sedangkan rata-rata kenaikan harga rumah adalah 7,5% per tahun. Berarti ada selisih 1,89% per tahun. Yang berarti pula bahwa daya beli menurun 1,89% per tahun. Kalau dijumlahkan dalam waktu 10 tahun, artinya daya belinya turun 18,9%. Makin lama akan makin membesar bila tidak ada inovasi atau kebijakan baru.

Nah kenapa properti sewaan akan makin menggiurkan? Karena makin hari harga properti makin tinggi dan makin tidak terbeli. Ini kesempatan buat Anda untuk membeli properti sekarang dan membantu mereka yang menempati tempat tinggal yang layak, meski harus menyewa. Menambah income Anda juga bukan?

Tunggu apa lagi, hubungi kami, Regina Realty. We do your homework! Visit ReginaRealty.co.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *