Daya Juang Orang Bodoh

Saya sedikit heran dengan pertanyaan beberapa teman saya soal kenapa saya berani gagal pada beberapa kesempatan. Sebenarnya justru saya yang heran pada beberapa orang yang takut gagal hingga akhirnya tidak mencoba apapun. Tidak mencoba memang berarti tidak akan gagal. Tetapi hidup ini hanya sekali, kenapa harus takut dengan kegagalan.

Edison harus mencoba 1.000 kali sampai akhirnya menemukan serat yang tepat untuk bola lampunya. Harland Sanders harus ditolak 1.093 kali sebelum akhirnya ada orang yang mau membeli franchise ayam gorengnya
—- dan KFC tetap menjadi ayam goreng terpopuler saat ini. Ray kroc baru menjadi kaya setelah berumur diatas 50 tahun, itupun harus mengalami kegagalan mulai dari bercerai dengan istrinya, harus merelekan rumahnya disita bank hingga direndahkan beberapa temannya sebelum akhirnya kesuksesan menghampirinya sebagai pendiri
Mcdonalds. Akhir-akhir ini populer video ceramah Jack Ma tentang berapa kali Ia gagal hingga akhirnya menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Jadi apa kesamaan orang-orang ini?

Mereka semua sama: sama-sama bodoh!

Bodoh untuk mendengarkan saran orang lain untuk berhenti. Bodoh untuk tahu malu seberapa kalipun dihina dan direndahkan orang lain.

Bicara soal ‘bodoh’ mungkin kita belajar banyak dari pria bernama Bill Potter.

Bill Potter terlahir dengan banyak kekurangan hingga banyak orang disekitarnya mencap bodoh. Bill terlahir dengan sindrom celebral palsy. Dokter yang menangani Ibunya sewaktu Ia dikandungan kurang berhati-hati
hingga otaknya mengalami pertumbuhan yang kurang sempurna. Tangan kanannya tidak bisa berfungsi dengan baik dan kaki kirinya sedikit pincang. Kalau itu masih kurang untuk merendahkan dirinya, ototnya wajahnya tertarik sehingga membuatnya sulit bicara dan wajahnya terlihat unik bagi bertemu dengannya.

Bill hanya hidup berdua dengan ibunya dan Ia tidak mau merepotkan Ibunya seumur hidupnya. Untuk itu Ia memutuskan untuk bekerja. Tapi perusahaan mana yang mau menerima orang dengan keterbatasan seperti dia.

Watkins inc. adalah perusahaan produk perawatan diri dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Saat itu awal tahun 50an rata-rata penjualan produk masih menggunakan katalog dan sistem antar pos. Saat itu belum ramai mal dan supermarket. Jadi mirip saat ini dengan cara belanja online dan barang diantar melalui paket pengiriman.

Namun bedanya saat itu ada sales keliling yang mengetuk pintu satu persatu dan mencatat pemesanan pelanggan.

Bill bermaksud melamar di Watkins, namun beberapa kali Ia mencoba meyakinkan, bagian personalia menolaknya karena pekerjaan ini akan sulit dilaksanakan Bill yang mempunyai keterbatasann.

“Pak, Begini saja.. Saya mohon diterima.. Anda tidak usah menggaji saya, biarkan saya bekerja dengan sistem komisi.”

“Berikan saya rute yang tidak ada satu orangpun mau ambil. Berikan saya wilayah yang tidak ada satu salespun mau
garap. Berikan pada saya dan biarkan saya bekerja. Kalau saya berhasil anda akan dipuji. Kalaupun saya gagal, anda tidak akan rugi apa-apa..”

“Mohon berikan saya kesempatan, saya tidak mau membuat ibu saya bersedih karena saya tidak mendapatkan pekerjaan ini.”

Akhirnya manajer tersebut luluh dan memberikan Bill Potter wilayah Portland, Oregon.

Portland dihindari oleh sales lainnya karena wilayahnya rata-rata orang berpendidikan rendah dan pekerja kasar.
Daerahnya terkenal kumuh dan sering berkelahi sesama warga. Bayangkan Bill yang fisiknya kurang sempurna harus naik bis dari rumahnya sejauhnya 34 km dan berjalan menyusuri Portland untuk menawarkan produk  jualannya. Katalognya sendiri beratnya lebih dari 10kg dan Ia hanya bisa membawanya dengan tangan kirinya karena tangan kanannya tidak bisa menggenggam.

Untuk mengikat sepatu dan memakai dasinya Ia akan mampir ke hotel dekat pemberhentian bisnya dan meminta tolong pada salah satu pelayan hotel disitu. Tidak lupa Ia akan menceritakan cerita-cerita lucu dan sekedar uang tips agar pelayan tersebut tidak bosan dengan dirinya.

Begitulah Bill berjuang menjalani kehidupannya sebagai Salesman.

Bahkan dihari-hari awal tidak ada orang yang mau memesan melalui Bill. Ia harus menerima perlakuan kasar dari rumah yang Ia ketuk. Terkadang bahkan pintu rumah dibanting tepat didepan mukanya. Anjing pemilik rumah agresif dan menggonggongnya tanpa henti. Tetapi Ia hanya ingat pesan Ibunya: Patience dan Persistence.

Kira-kira kalau dibahasa Indonesiakan padanan katanya adalah Sabar dan Tekun.

Kalau Bill ditanya mengapa Ia tidak berhenti saja jawabannya mungkin akan mencerminkan ketekunannya:
Saya sudah sering dicap bodoh dan sering dilecehkan dari dulu. Mengapa Saya harus berhenti sekarang?

Singkat Bill Potter menjadi sales terbaik nasional dengan komisi tertinggi di Watkins inc. Prestasinya mengagetkan beberapa rekannya. Bahkan yang memegang wilayah yang dianggap subur saat itu. Bill tidak pernah mengeluh dan meminta dispensasi dalam melayani pelanggan diwilayahnya.

Bahkan ketika musim salju dimana rata-rata sales lain lebih memilih berdiam diri dirumah Bill tetap memilih berjalan kaki dan mengetuk pintu satu persatu pelanggannya. Ia tahu musim salju akan membuat orang malas keluar rumah sehingga akan lebih suka berbelanja melalui katalog.

Begitulah terkadang menjadi ‘bodoh’ lebih unggul daripada menjadi pintar dengan titel sarjana dari Universitas terkenal  sekalipun. Karena orang ‘bodoh’ tahu saatnya berhenti adalah ketika Tuhan berkata “sudah cukup, saatnya pulang”.

Sebelum itu… Ia hanya tahu bagaimana tetap berusaha.

Selamat menikmati indahnya hidup teman-teman yang ‘bodoh’

Penulis :
Dimas Laksmana
Linka Property

Photo by Nick Fewings on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *