Daripada Beli Hunian, Generasi Milenial Pilih Traveling

Generasi Milenial yang berusia antara 25 hingga 35 yang bekerja dan tinggal di area Jabodetabek ternyata lebih memilih traveling daripada membeli hunian, entah itu apartemen atau rumah tapak. Fenomena ini terlihat dari hasil survei KompasProperti kepada 10 kawula muda dengan metode questionaire yang dilakukan pada Minggu kemarin (12/11/2017).

Mereka menjawab 10 pertanyaan mengenai adanya kemungkinan pembelian hunian apartemen rumah atau tapak dalam waktu dekat.  Survei ini memang tidak menggambarkan kondisi sesungguhnya preferensi kaum milenial Jabodetabek, namun paling tidak dapat menyuguhkan sedikit gambaran bahwa membeli hunian bukan urusan prioritas mereka.

Dari total 10 responden yang lahir pada tahun 1982 hingga 1992 dengan pendapatan Rp 8 juta sampai Rp 35 juta per bulan ini, lebih memprioritaskan traveling ke luar kota dan luar negeri atau belanja leisure ketimbang membeli rumah.

Alasan yang dikemukakan, hampir sama. Dengan jalan-jalan, mereka mendapat pengalaman, dan mengoleksi ingatan tempat-tempat indah, tentang kebudayaan, makanan, bahasa, dan sudut pandang hidup yang berbeda.

Misalnya, Wilson Wangsawinata, 27 tahun. Anak muda tinggi menjulang berkaca mata ini dengan tegas memilih jalan-jalan

“Banyak yang diperoleh, knowledge, cara bagaimana kota di dunia bisa maju, bagaimana mereka bisa bekerja sama dengan kompak tanpa melihat perbedaan agama dan lain-lainnya. Itu bisa saya pelajari dengan mengeliling dunia,” tutur Wilson yang pernah mampir hampir ke seluruh kota penting dunia baik di Amerika Serikat, Eropa dan Asia.

Wilson sendiri berpendapatan Rp 8 juta per bulan. Dia sangat menyukai traveling ke kota-kota dunia dengan penataan mumpuni. Maklum, anak muda berkulit terang ini juga merupakan pemerhati pembangunan perkotaan.

Jawaban seirama juga diungkapkan oleh I Made Mahendra Budhiastra,24 tahun, yang bekerja di sebuah hotel bintang lima Jakarta bagian server ini menerangkan pilihan utamanya adalah traveling.

Mahendra ingin bereksplorasi di dunia ini lebih dalam ketimbang pusing mikirin cicilan rumah dengan suku bunga yang selangit.

“Traveling lebih berharga,” kata Mahendra yang memiliki penghasilan kurang lebih Rp 9 juta-Rp 10 juta per bulan.

Herlina Febryan (34 tahun), Jerry Ferdinand Kambey (26 tahun), Ardhi Soetadi (27 tahun), Denis Kurniawan (30 tahun), Wawan Prasetyawan (29 tahun) ,Adrianus Satrio Adinugroho (31 tahun), Aloysius Andre Wahono (26 tahun), Dewi Kartika Rahmayanti (34 tahun), dan juga menjawab Traveling dengan mantap!

Menurut Herlina traveling adalah fardhu kifayah. Maka dari itu, dia akan rela antri selama berjam-jam dari subuh demi mendapatkan tiket promo di ajang Travel Fair

“Traveling itu kebutuhan spiritual yang bisa menjadi semacam healing untuk kita melepas penat setelah sibuk dengan pekerjaan,” tutur gadis berkaca mata ini.

Meski menggunakan tiket promo, Herlina tercatat sudah mendatangi sejumlah lokasi yang memiliki perbedaan fundamental dengan domisilinya sekarang di Bogor. 

Harga hunian “overpriced”

Walau rumah bukan prioritas, namun mereka tetap berharap dapat membeli rumah. Kapan mereka akan membeli rumah?

Kecuali Adrianus dan Dewi yang sudah punya rumah sendiri setelah menikah dan telah memiliki masing-masing satu anak, kedelapan responden lain lagi-lagi memberikan jawaban senada yaitu, menabung dulu.

“Tunggu sampai uang celengan cukup. Memang sih, bisa kredit, cuma mau siapkan buffer dulu siapa tahu nanti ada apa-apa,” ungkap Denis yang juga seorang Internal Audit Manager perusahaan milik konglomerat Indonesia dan berpenghasilan Rp 35 juta per bulan. 

Tidak hanya itu, mereka beranggapan bahwa harga hunian di Jabodetabek overpriced alias terlalu mahal. Tidak sesuai dengan spesifikasi yang didapatkan. Seperti kualitas konstruksi seadanya, jauh dari jaringan transportasi dan tidak memiliki akses yang memadai.

Meskipun tersedia rumah yang berkualitas dan dekat dengan tempat kerja pun harganya menjulang tinggi. Selebihnya adalah rumah dengan kualitas seadanya.

Sumber: http://properti.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *