Sedang Mengambil Kredit Properti, Ambillah Asuransi Penyakit Kritis

Salah satu kebutuhan keluarga yang cukup penting adalah rumah. Membangun keluarga yang baik memerlukan rumah dan lingkungan yang kondusif. Rumah juga dinilai sebagai aset yang bernilai tinggi. Oleh karena itu, banyak orang yang sudah berkeluarga, ketika sudah memiliki uang yang cukup, akan segera membeli rumah.

Tak heran, kalau bisnis properti berkembang pesat, dari daerah-daerah kota sampai ke daerah perdesaan. Perkembangan bisnis properti yang pesat ini pula yang menandai cara baru membeli rumah, yaitu dengan kredit.
Jika orang-orang dahulu harus mengumpulkan uang untuk membeli atau membangun rumah, sekarang cukup menyiapkan uang muka (DP), rumah sudah bisa dibeli.
Karena itu, umumnya orang membeli rumah dengan cara membeli kredit atau yang popular dengan sebutan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Skema KPR memiliki rentang waktu yang cukup lama 15, 20, hingga 25 tahun.
Ketika seseorang mengambil kredit rumah, misalnya 25 tahun, maka ia memiliki kewajiban untuk menyetor KPR selama itu. Tidak masalah kalau di dalam keluarga itu ada seorang pencari nafkah yang bisa membayar utang KPR tersebut.
Karena selama pencari nafkah masih bisa bekerja, cicilan utang KPR bisa tetap dibayar. Tapi bagaimana keadaannya ketika pencari nafkah terdiagnosa sakit kritis?
Sakit kritis? Apa maksudnya? Ya, sakit kritis itu berbeda dengan sakit biasa, misalnya tifus (tipes) atau DBD yang mungkin bisa sembuh seperti sedia kala dengan melakukan pengobatan dan rawat inap.
Sakit-sakit tersebut berbeda dengan sakit kritis. Sakit kritis adalah sakit-sakit yang tergolong berat yang memerlukan pengobatan yang lama dan biaya yang cukup mahal. Dan, biasanya seseorang yang terkena sakit kritis menjadi tidak lagi produktif atau tidak lagi bisa bekerja, karena harus melakukan pengobatan sakit dengan waktu yang cukup lama.
Apa saja contoh penyakit kritis? Penyakit kanker, serangan jantung pertama, stroke, gagal ginjal, kelumpuhan, koma, dan 43 jenis penyakit kritis lainnya yang dicover asuransi penyakit kritis.
Nah, jika seseorang yang sedang mengambil KPR rumah terdiagnosa penyakit kritis, maka setoran KPR bisa saja berhenti, karena yang bersangkutan tidak lagi bisa bekerja dan kran penghasilan berhenti.
Jika ia seorang pegawai negeri, polisi, atau tentara, mungkin penghasilan tidak sepenuhnya berhenti, karena gaji pokok masih bisa dibayarkan oleh pemerintah. Tapi pasti penghasilannya berkurang karena tidak lagi ada uang tunjangan.
Dan, dalam konteks ini, saya tidak sedang membicarakan pebisnis besar yang penghasilannya sangat besar. Jika mereka tidak sedang bekerja pun penghasilan itu tetap mengalir, karena ada uang dan sistem yang bekerja menghasilkan uang.
Di samping itu, karena sifat sakit kritis yang menuntut biaya yang besar (bahkan sangat besar), maka semua aset yang dimiliki berupa tabungan atau emas, juga gaji (jika masih ada) harus direlakan untuk biaya berobat sakit kritis yang besar itu.
Bagaimana dengan kewajiban setor KPR? Tentunya bisa berhenti, kalau tidak ada backup dana yang cukup. Lalu, bagaimana kalau berhenti setor KPR? Tentu kredit macet dan rumah bisa saja diambil alih oleh pihak KPR.
Dengan demikian, tujuan memiliki rumah untuk keluarga tidak lagi tercapai.
KPR Perlu Backup Asuransi Penyakit Kritis
Bagaimana supaya kita bisa mengantisipasi kemungkinan buruk sebagaimana telah dijelaskan itu? Ada solusi keuangan yang dapat menjamin ini, ketika risiko sakit kritis terjadi. Apa itu? Asuransi penyakit kritis!
Apa itu asuransi penyakit kritis? Asuransi penyakit kritis adalah asuransi yang memberikan sejumlah uang tunai dalam jumlah besar ketika tertanggung pertama kali mengalami salah satu penyakit kritis.
Karena itu, asuransi penyakit kritis bertujuan untuk mem-backup keuangan dari risiko sakit kritis yang dampak keuangannya besar.
Seperti yang sudah dijelaskan, sakit kritis akan berdampak pada berhentinya penghasilan (karena penderita harus berhenti bekerja, harus melakukan pengobatan) dan biaya pengobatan yang besar atau sangat besar.
Maka, dengan asuransi penyakit kritis, seseorang akan memiliki backup dana yang cukup, karena ketika terjadi risiko sakit kritis, pihak perusahaan asuransi akan memberikan sejumlah uang tunai yang besar, sesuai dengan uang pertanggungan yang disepakati di dalam polis asuransi.
Uang pertanggungan sakit kritis yang besar tersebut, selain untuk biaya berobat dan keluarga, bisa juga untuk melunasi rumah KPR. Dengan demikian KPR tidak lagi menjadi masalah, ketika risiko sakit kritis datang.
Mungkin kita akan berkata, “Yah, Pak, kita tidak berharap sakit kritis lah. Amit-amit, Pak. Kita juga sudah menerapkan pola hidup sehat kok!”
Memang betul. Semua orang tidak berharap terkena sakit kritis. Tapi berjaga-jaga untuk sesuatu yang mungkin terjadi adalah langkah yang baik dan bijaksana. Karena sakit kritis bisa menimpa siapa saja: muda ataupun tua; laki-laki ataupun perempuan; yang menerapkan pola hidup sehat ataupun tidak! Dan, dampak dari penyakit kritis, tidak saja akan menyulitkan diri sendiri (yang terkena sakit), tapi juga keluarga.
Lain halnya jika ada uang pertanggungan yang besar dari asuransi penyakit kritis. Setidaknya keluarga bisa lebih tenang, bisa lebih leluasa untuk fokus melakukan pengobatan sakit kritis.
Apakah di KPR tidak ada asuransi? Ada, tapi KPR tidak menyertakan asuransi penyakit kritis. Di dalam KPR ada asransi jiwa, cacat tetap atau PHK, dan asuransi kebakaran (tiga yang disebutkan terakhir, tidak selalu ada).
Untuk asuransi jiwa, pihak bank yang telah menyertakan asuransi jiwa ke dalam produk KPR-nya akan secara otomatis melunasi sisa pinjaman yang ada. Dengan syarat, tidak ada tunggakan cicilan sebelum nasabah meninggal. Jadi, jika sedang mengambil KPR, ambillah asuransi penyakit kritis!
(Artikel kiriman Sdr. Dede Sulaeman dari proteksipenghasilan.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *