Sebuah Konsep Tentang Rumah Milenial (2)

Tulisan ini sebagai sambungan dari tulisan saudara Dimas Laksmana di bagian satu dimana anda dapat membacanya pada link berikut: http://yukbisnisproperti.org/2017/12/sebuah-konsep-tentang-rumah-milenial/.  Berikut adalah lanjutan tulisan beliau yang kami hadirkan tanpa mengubah redaksi asli kecuali judul dan paragraf pengantar ini.

Salah satu pertanyaan yang timbul dari tulisan pertama tersebut adalah apa bedanya konsep Rumah Milenials ini dengan kontrakan petak atau malah studio apartemen sekalipun?

Pertama, konsep Rumah Mini ini memang mini secara luas bangunan nanti maksimal secara pemanfaatan utilitas bersama. Artinya ada beberapa fasilitas umum berada diluar bangunan namun mempunyai manfaat pada unit rumah didalam kluster.

Kedua, pembangunan Apartemen membutuhkan lahan minimal 6.000 m2 untuk tinggi apartemen hingga 10 lantai.
Konsep apartemen hanya bisa dilaksanakan oleh developer besar dengan bantuan keuangan yang mumpuni. Belum lagi soal masa pembangunan (grass period) apartemen yang lebih dari 2 tahun.

Konsep Rumah Mini bisa dibangun dengan lahan hanya 1.000 m2 dan bisa mendapatkan 40 unit seperti pada video saya diatas. Sehingga developer kelas menengah kebawah bisa lebih cepat menyerap konsep seperti ini.

Saya mencoba mengupas satu-persatu utilitas bersama yang lebih bermanfaat bila Rumah Mini dibangun dalam sistem kluster.

1. HALTE
Dikarenakan keinginan untuk memiliki kendaraan pribadi menurun —bahkan hampir hilang— dan kebiasaan memakai transportasi berbasis daring meningkat sehinga dibutuhkan tempat tunggu yang nyaman ketika penghuni menunggu transportasi pesanannya datang. Halte juga bisa dapat bantuan sponsorship dari penyedia jasa transportasi untuk pembangunannya.

2. SISTEM SEPTIC-TANK BIOGAS
Penyatuan saluran limbah feses kedalam satu tangki didalam tanah yang bisa dimodifkasi menjadi Biogas akan mempunyai skala produsi biogas yang lebih cepat dan masif. Hasil Biogas bisa disalurkan kembali kedalam unit rumah didalam kluster sehingga menghemat pembelian LPG.

3. SISTEM PENGOLAHAN AIR BERSIH
Mata sumur air bersih cukup satu yang dikelola untuk disalurkan kedalam unit rumah. Sehingga penggunaan air tanah lebih terjaga. Toren Air tidak perlu ditaruh disetiap unit rumah yang tentunya menghabiskan material untuk membuat dak. Untuk air hujan bisa ditampung dan diolah dalam kolam tersendiri sehingga bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman dan lain-lain.

4. GUDANG
Kemungkinan keinginan untuk memiliki item barang akan lebih sedikit dimasa depan karena banyak hal yang bisa disewa. Barang-barang seperti perlengkapan bayi, peralatan listrik atau otomotif, sepeda dan lain-lain akan semakin meningkat pengunaannya secara sewa dengan basis daring. Jadi untuk beberapa barang yang memang harus disimpan dalam jangka waktu tertentu bisa ditaruh di gudang yang disewa dalam waktu tertentu juga.

5. KOTAK DROP BELANJA ONLINE
Bayangkan anda membeli beberapa barang secara online lalu petugas kirimnya mengirimkan ketika anda tidak ada dirumah. Lalu pengiriman dibatalkan. Padahal anda sendiri juga malu kalau harus menerima dikantor karena takut dikira boros terlalu sering belanja online.
Kotak drop ini bisa disediakan digerbang kluster dengan sistem online yang tersambung dengan situs belanja anda. Sehingga hanya anda yang bisa membuka kotak tersebut dengan QR code atau cara-cara tertentu.
Jadi ketika pulang anda sudah bisa mendapatkan barang belanjaan anda dikirim kerumah anda.

6. SEPEDA LISTRIK
Penggunaan sepeda listrik kemungkinan meningkat dimasa depan dan anda bisa meninggalkan sepeda anda sambil di charge batreinya diparkiran sepeda didalam kluster. Listriknya bisa dari Solar Panel yang di Install didalam kluster.

* * * * *

Konsep Rumah Mini Milenials ini memang baru bisa terwujud dengan beberapa perubahan Undang-undang Agraria dan Peraturan Pemerintah tentang Tata Ruang.
Karena untuk saat ini akan terbentur peraturan tentang tanah efektif, koefisien dasar bangunan, garis sempadan bangunan dan garis sempadan jalan. Namun bukan berarti tidak bisa terlaksana.
Karena dengan semakin sedikitnya lahan dikota-kota besar solusi yang ditawarkan seperti ini sangat efektif.

Tanah adalah warisan titipan bagi generasi selanjutnya. Tentu kita tidak mau permasalahan hunian bagi generasi selanjutnya menjadi masalah kronis yang tidak ada ujung solusinya.

Kita melihat daerah-daerah kumuh dan sempit di Ibukota dengan satu atap yang ditinggali hingga 3 generasi. Dari kakeknya sebagai pemilik pertama rumah tersebut dengan anaknya yang juga sudah punya anak lagi.

Walaupun secara luas bangunan konsep ini terlihat lucu tapi kalau melihat cara pandang generasi milenials kedepan konsep ini masuk akal dan lebih manusiawi daripada membiarkan gang-gang sempit ditempati oleh generasi-generasi muda bangsa ini.

salam.

(2018 – more sharing more carrying)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *