Inilah Konsekuensi Jika Anda Berbohong Pada Saat Pengajuan KPR

Market.yukbisnisproperti.org (16)

Saat proses pengajuan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) pada pihak bank, maka Anda akan diminta untuk mengisi formulir berupa data diri sebagai persyaratan yang harus dilengkapi. Data, informasi, ataupun dokumen yang Anda berikan pada pihak bank akan digunakan untuk memverifikasi apakah Anda layak untuk mendapatkan pinjaman atau tidak. Oleh karena itu, penting sekali untuk memberikan data diri yang benar dan sesuai dengan kondisi finansial Anda. Jangan sekali-kali mencoba untuk membohongi pihak bank karena apabila mereka memverifikasi data Anda dan menemukan ketidaksesuaian, maka kemungkinan pengajuan KPR Anda akan ditolak.

Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan ada kondisi atau keadaan dimana seseorang terpaksa berbohong kepada pihak saat pengajuan KPR demi mendapatkan pinjaman. Tindakan tersebut tentu memiliki konsekuensi. Apa konsekuensinya? Berikut kami berikan sebuah ilustrasi tentang konsekuensi jika berbohong pada saat pengajuan KPR.

Contoh Kasus

Tokoh utama sebut saja ibu Anna, yang baru saja menikah dan ingin memiliki sebuah rumah idaman untuk ditempati bersama suaminya. Suami ibu Anna adalah seorang nahkoda, sehingga mengharuskan suaminya berpindah-pindah. Suatu ketika, ibu Anna mengajukan KPR pada Bank Danamon. Namun proses pengajuan KPR ibu Anna ditolak oleh pihak bank karena profesi suaminya yang mengharuskan untuk sering berpindah-pindah. Lalu, ibu Anna memanfaatkan KTPnya yang masih berstatus single (karena belum diganti setelah menikah) untuk mengakali pihak bank. Proses pengajuan pun berjalan lancar hingga pelunasan sudah berlangsung selama lima tahun. Suatu ketika, suami ibu Annda tidak terima karena akta tanah bukan beratasnamakan suaminya. Ibu Anna kemudian ingin menggantinya dengan mendatangi bank dan mengaku baru menikah 5 bulan yang lalu. Ibu Anna diminta untuk menyerahkan kopian surat nikah oleh pihak bank.

Munculnya Masalah

Disini masalah mulai muncul. Karena ingin mengganti akta tanah menjadi atas nama suami, maka ibu Anna mengaku sudah menikah 5 bulan yang lalu pada pihak bank. Masalah muncul karena pada faktanya ibu Anna sudah menikah selama 5 tahun. Pihak bank kemudian mengklaim bahwa ibu Anna tidak sepenuhnya dalam memberikan informasi atau telah membohongi pihak bank. Kemungkian paling buruk yang bisa terjadi adalah pihak bank menarik kembali rumah yang telah dicicil selama lima tahun karena pihak bank merasa tertipu.

Kemungkinan Selanjutnya

Karena tindakan yang dilakukan oleh ibu Anna, pihak bank bisa saja menggugat pembatalan perjanjian kredit dan melaporkan ibu Anna atas tindakan penipuan. Sesuai dengan pasal 36 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UUP), “mengenai harta bersama suami atau istri dapat bertindak atas perjanjian kedua belah pihak”. Jadi pada saat ibu Anna mengaku masih lajang pada saat pengajuan kredit namun kenyataannya sudah menikah, terlebih jika suami ibu Annda menyangkal telah menyetujui pengajuan kredit. Pihak bank bisa menuntut ibu Anna telah melanggar Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penipuan. Apabila ibu Anna terbukti bersalah, maka pihak bank bisa menggunakan putusan pengadilan untuk menggugat pembatalan perjanjian kredit.

Resiko Kehilangan Rumah

Konsekuensi paling buruk akibat berbohong saat pengajuan kredit adalah resiko kehilangan rumah yang sudah dicicil beserta uang cicilan yang telah disetorkan. Belum lagi, kemungkinan ibu Anna dipenjarakan atas tindakan penipuan. Maka dari itu, hindari melakukan penipuan terhadap pihak bank saat Anda mengajukan KPR dengan memberikan segala informasi dan data yang diperlukan dengan jujur dan sebenarnya-benarnya.

Leave a Reply

Required fields are marked*