12032083_10206603325795933_4558268575819193848_n

Di ujung setiap perjuangan, terangkai sebuah cerita. Pun dari WEMPI ROMAN, seseorang yang kini mendedikasikan diri menekuni, mengampanyekan, dan menularkan virus PROPERTI PRODUKTIF. Dari perbincangan dengannya, kami menyalin sejumlah kisah. Tentang mimpi dan keyakinan. Juga tentang kiat dan pola-pola.

Boleh jadi ia tidak setampan Reza Rizki Hermawan yang pemilik lahan proyek perdananya kemudian jadi mertua. Mungkin tidak pula semanis Aldo Gilang Raharja, owner ALGIRA, yang mirip bintang felem India. Tapi prestasinya tidak bisa dipandang sebelah mata.

12289730_10206909680694614_7409395477048180868_n

Lahir sebagai “anak kampung” dari sebuah keluarga sangat bersahaja (begitu menurut pengakuannya) pada sebuah desa di kaki gunung Lawu, Jawa Timur, Wempi kecil tumbuh dalam tradisi perkampungan jawa yang kental dengan aktivitas pertanian, persawahan, peternakan, dan sejenisnya. Ini mungkin penyebab warna kulitnya agak “eksotis” ^_^

Demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik, lelaki kelahiran 1985 ini melanjutkan sekolah di sebuah Pondok Pesantren di Jawa Timur. Tidak puas berhenti di situ, ia “memaksakan” diri (meminjam bahasanya) untuk lalu meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi negeri di kota Jogja.  Dengan modal dana alakadarnya, kerja serabutan mulai menjual pulsa, tiket airline, hingga jasa desain, akhirnya tergenggam gelar sarjana.

Di Azizan Inn, tempat kos yang kini ia kelola, Kami pun mulai mengajukan pertanyaan pertama. Senin pagi menjelang siang, 07 November 2016. Bincang santai dengan bahasa sederhana diiringi banyak canda..

Masa kuliah nampaknya berkesan. Boleh digambarkan?

Mengenaskan! Pokoknya kontras banget dengan kehidupan mahasiswa sekarang yang punya fasilitas serba lengkap, dandanan ganteng dengan motor ninja atau mobil honda jazz.. hehehe..

Kapan terakhir ngekos atau jadi anak kosan?

Sejak kuliah saya tinggal berpindah-pindah. Dari sebuah surau, ke kos-kosan sederhana sampai jadi sarjana. Terakhir ngekos sebagai mahasiswa di Jogja tahun 2008. Hijrah ke Bandung tahun 2010 tetap menjadi anak kos. Lanjut ke Depok sejak 2011 hingga sekarang. Jadi, selama kuliah ngekos, selama merantau juga ngekos.. hingga akhirnya, perlahan2 kehidupan mencair dan “indah pada waktunya”.. hehehe..

Waktu ngekos, apakah pernah berkhayal, bercita-cita, atau terpikir balas dendam dan suatu saat harus jadi BAPAK KOS?

Bermimpi tepatnya! (di sini kami merasa kaget)

Ini hobi saya dari dulu.. mimpi keliling negara-negara baru.. jadi developer.. jadi pemilik kos-kosan.. jadi pemilik hotel.. dan akhir-akhir ini mimpi saya makin banyak… aneh-aneh… makin menantang untuk diwujudkan.

Alhamdulillah.. Beberapa sudah berhasil saya wujudkan… dari “anak kampung” di kaki gunung Lawu bisa keliling asia.. jadi developer perumahan dengan modal orang lain.. dan tentu yang tadi ditanyakan.. jadi pengelola kos-kosan dengan modal.. hmm.. rahasia.. hehehe..

Sampai di sini belum tampak tanda-tanda ada kopi atau hidangan yang akan disajikan di Azizan Inn.. pertanyaan tetap kami lanjutkan..

Kapan pertama kali muncul ide bikin kos-kosan? Bagaimana prosesnya?

Persisnya saya lupa, tapi sekitar 4 tahunan lalu. Kos-kosannya sendiri sudah running hampir 3 tahun hingga sekarang. Mimpi membangun kos-kosan ternyata bukan cuma punya saya, orang-orang di sekeliling saya juga punya pandangan yang sama. Mereka ingin penghasilan lebih dari sebuah investasi sederhana, dan tetap bisa fokus bekerja di bidangnya masing-masing. Begitu prosesnya.

Modalnya tentu besar, “nemu” di mana duitnya?

Nah.. ini agak sulit menjawabnya (hmmm… sepertinya ada yang ingin dirahasiakan). Prinsipnya, keinginan teman-teman yang punya pandangan sama tadi, saya terjemahkan menjadi sebuah formulasi kreatif. Intinya bagaimana kita bareng-bareng bisa dapet penghasilan rutin dengan cara sederhana, tapi investasinya tidak besar.. ya.. ukuran kantor seorang pegawai biasa.. di bawah 100 juta..

Ada berapa lantai dan kamar di Azizan Inn? Bagaimana tingkat huniannya?

Pinginnya sih 10 lantai.. hehe.. tapi untuk saat ini baru 3 lantai saja dengan 25 kamar. Tingkat huniannya 99%. Selalu penuh. Sebab persis berlokasi di titik pendatang di kota Depok. Bahasa keren nya, central crowd. Karena tiap kota, pasti ada central crowd-nya. Nah.. spot ini nih….. yang paling anu….

10702024_10204064398204330_5085822947729477970_n

Bisikin dong biar pada “ngiler”.. berapa sih omzetnya per bulan?

Rata-rata per kamar itu sekarang sudah 1 juta. Awal-awalnya hanya sekitar 700 (ribu), seiring bertambah tahun, ini mengalami peningkatan harga dan fasilitas. Nah dengan 25 kamar bisa tuh ngitung berapa ya omsetnya… hehehe..

Matahari mulai meninggi. Dahaga mulai terasa. Belum ada komando kepada penjaga Azizan Inn untuk mengantar penawarnya. Sesosok makhluk kos cantik berhijab melintas dengan ale-ale dingin di tangan.. Kami harus tetap profesional. Semangat. Lanjutkan pertanyaan..

Punya bisnis properti produktif lain? Boleh diceritakan?

Ada, saya kelola bisnis yang saya tempatkan di properti pinggir jalan raya. Ada juga, bisnis air isi ulang. Tapi kalo yang ini, hasilnya untuk sekolahin pesantren anak-anak yang kurang mampu. Jadi, ada yang murni cari duit, ada juga yang murni latihan biar makin pantes masuk surga.. hehe.. walau tetep aja belum pantes. Namanya juga latihan. Dari bisnis sederhana ini, siapa sangka bisa cetak omset lebih dari 50 juta? Sudah bisa buat jajan es teh, sisa nya buat nambah properti produktif seperti ruko, dan kosan lagi.

Profesi arsitek, bisnis kontraktor dan developer tetap jalan?

Ini passion saya, sejak kuliah sudah mroyek dari yang sederhana. Sekarang, kegiatan mroyek itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Setahun, bisa handle klien jasa arsitek lebih dari 50, dengan kasus dan permintaan yang bervariasi. mulai rumah tinggal hingga proyek perumahan hektaran.

Tiap hari, saya bikin konsep baru, mencari konsep baru, dan memecahkan satu per satu permasalahan klien tersebut. Ini pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran, tapi ini modal nya adalah preseden data dan sering riset.

Kontraktor, ini memang volumenya tidak besar, jadi mesti selektif juga untuk handle pekerjaan. Tdak semua yang ditawarkan, harus di ambil.. Hehehe.. Developing juga berjalan. Dengan pola baru tentunya, sehingga bisa berjalan dengan monitoring seperlunya.

Gimana bagi waktunya?

Ini yang susah ya… semua punya waktu yang sama. Warga urban identik dg sibuk, padat, tak ada waktu, dan kurang piknik. Ngaku…… !!! (duh kaget lagi)

Nah, ternyata…. ada jawabanya. Kunci nya, bangun pagi. Lalu berusaha ontime 5 waktunya.

Ntar sama gusti Alloh akan di kasih waktu luang lebih banyak. Bisa main sama anak dengan waktu cukup, bisa nemenin istri jalan2 dg waktu cukup.  Jangan tanya, kok bisa….. ini hanya cara sederhana, impact nya luar biasa. Jangan coba coba, kalau ingin punya banyak waktu luang.

Selain itu, asyiknya bisnis properti produktif seperti kos-kosan itu adalah memungkinkan kita untuk tetap bisa menjalankan pekerjaan utama sebagaimana biasa.

Pandangan mulai kabur. Penjaga kos seperti mendatangi dengan nampan berisi minuman dingin warna-warni. Ternyata fatamorgana. Skip.

wempi-roman-berjas-dan-zidni-ilman-kemeja-kotak-berfoto-_160517212434-749-768x514

Apa tips untuk yang mau memulai bisnis kos-kosan atau properti produktif?

Lakukan action yang probabilitas tercapainya lebih tinggi, lebih mudah, lebih rasional dengan membuat banyak pola baru, konsep baru, dan cara baru. Maksutnya gini… jika kita tidak membuat banyak kemungkinan, maka hanya akan terjebak pada pola lama, dan pikiran kita terpenjara sehingga sulit untuk membuat action yang lebih solutif.

Jika ingin juga cetak properti produktif, maka harus bergaul dengan orang-orang yang punya mindset yang sama, pola pikir yang sama, walau gaya hidupnya tidak harus sama. Action-nya ditambah, tapi jangan sembarang action, harus sarat dengan ilmu juga.

Ada mimpi yang belum tercapai?

Saat ini, dalam waktu dekat saya ingin sekali masuk di sektor pariwisata, yaitu perhotelan.  Ini bisnis properti produktif paling inovatif dan kreatif, sarat dengan ide kreatif. Tapi pola-pola yang saya pelajari dari berbagai buku cenderung pola lama, yang selalu menuntut modal besar dari kantong.

Nah, kiranya, dengan perkembangan teknologi, demografi msyarakat, akan hadir sebuah hotel dengan pola baru, yang dimana seorang guru SMP atau guru SMU pun bisa memiliki hotel, dan berpenghasilan sangat sangat baik.  Jadi, tidak melulu pemilik hotel adalah seorang taipan atau keturunan taipan seperti yang sering kita dengar cerita dan beritanya.

Akhirnya tiba waktunya untuk pamitan. Padahal masih terganjal penasaran. Sempat ditahan untuk menunggu jamuan. Apa daya sudah terlanjur salaman. Terima kasih Mas Wempi sudah berbagi pengalaman. Astaga.. terlupa satu pertanyaan. Cukup penting untuk dijelaskan. Kenapa Mas Wempi memilih mengelola kos perempuan?  Tapi sudahlah.. abaikan.. 

Sampai jumpa dalam kelas RICH FROM REAL ESTATE, 26-27 November 2016 yang akan datang. Klik tautan berikut untuk informasi lanjutan bit.ly/WorkshopRFR 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *