Yuk Cari Tahu Tentang KPR Syariah

KPR SYARIAH q

Sesuai dengan peraturan bank Indonesia , untuk menggunakan KPR anda harus membayar DP (down payment) 30% dari harga rumah. Kebijakan ini terutama untuk rumah dengan luasan diatas 70m2. Jadi apabila anda ingin membeli rumah Rp. 500 juta melalui KPR maka anda harus menyiapkan dana Rp. 150jt. Sisanya Rp. 350jt akan dilunasi oleh bank. Nah, kita bisa memilih untuk menggunakan KPR syariah atau KPR konvensional, Berikut perbedaannya.

KPR Syariah

  • Jangka waktu yang ditawarkan maksimal 15 tahun
  • Bunganya tetap sehingga lebih aman dalam menghadapi inflasi yang kenaikannya tajam
  • Terdapat 2 pilihan yaitu akad mudaharad (jual beli) dan musyarakah mutanaqishah (kerjasama menyewa)
  • Apabila nasabah melakukan pelunasan sebelum jatuh tempo, maka nasabah tidak akan dikenakan denda.

KPR Konvensional

  • Jangka waktu yang ditawarkan maksimal 20 tahun, sehingga cicilan perbulan bisa lebih ringan.
  • Bunganya fix maksimal 3 tahun selanjutnya mengikuti tingkat inflasi.
  • Apabila nasabah melakukan pelunasan sebelum jatuh tempo, maka nasabah akan dikenakan denda/penalty

Yang berbeda antara KPR syariah dan konvensional adalah cara perhitungan kewajiban. Tidak ada perhitungan bunga dalam pembiayaan syariah, seperti dalam skema kredit di bank konvensional. Jadi tidak dikenal istilah bunga murah atau rendah dalam KPR syariah.

Jika anda tidak ingin Cicilan KPR Anda naik mungkin bisa mempertimbangkan KPR syariah yang menawarkan cicilan tetap selama masa kredit, melindungi Anda dari fluktuasi bunga kredit seperti sekarang. Syariah menggunakan sistem bagi hasil. Nilai pinjaman syariah adalah nilai pembelian rumah plus margin. Bank memberitahukan berapa margin yang akan diambil oleh bank dan dibebankan kepada nasabah. Dan yang paling penting, margin itu dibeberkan di muka, saat awal kredit, dan tidak berubah selama masa kredit.

Ada beberapa jenis skema pembiayaan rumah syariah, namun skema yang paling banyak diadopsi adalah Jual Beli (skema Murabahah).

Dalam skema Murabahah,

Harga jual rumah ditetapkan diawal ketika nasabah menandatangani perjanjian pembiayaan jual beli rumah. Misalnya, harga beli rumah Rp 100 juta. Untuk jangka waktu 5 tahun, bank syariah mengambil keuntungan/margin sebesar Rp 50 juta. Maka harga jual rumah kepada nasabah untuk masa angsuran 5 tahun adalah sebesar Rp 150 juta. Angsuran yang harus dibayar nasabah setiap bulan adalah Rp 150 juta dibagi 60 bulan (5 tahun) = Rp 2.5 juta.

Bagaimana cara perhitungan margin syariah?

Bank sudah menentukan besarnya margin, yang biasanya berbeda – beda sesuai jangka waktu pinjaman. Untuk melakukan simulasi, Anda tinggal menentukan ingin berapa lama mengambil pinjaman KPR.

Makin panjang masa pinjaman, makin tinggi margin. Artinya, makin lama meminjam, makin besar porsi bagi hasil yang harus dibayarkan ke bank. Ini terkait besar kecilnya risiko buat bank. Makin lama pembiayaan diberikan, makin besar kemungkinan nasabah tidak membayar tepat waktu. Untuk mengantisipasi hal tersebut, bank membebankan margin yang lebih tinggi. Ini semacam kompensasi risiko.

Tingkat margin ini adalah hal yang wajib dilihat ketika membandingkan KPR syariah. Besar kecilnya margin menentukan cicilan yang harus Anda bayar setiap bulan.

Kenapa cicilan kredit menjadi tetap di KPR syariah?

Karena dalam pembiayaan syariah, harga rumah dan margin keuntungan bank sudah dipatok di awal saat perjanjian kredit. Jumlah keuntungan atau margin untuk bank sudah disepakati sejak awal. Ini berbeda dengan KPR konvensional yang penetapan bunga bersifat mengambang (floating) tergantung kondisi pasar. Bunga tidak dipatok, bisa tinggi, bisa pula rendah.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Required fields are marked*