Seorang yang baru berinvestasi di properti mengeluh bahwa rumah kost yang dia beli tidak memberikan hasil di atas bunga kredit bank. Bunga kredit bank di Indonesia lebih dari 10%, bisa mencapai 15%. Di satu sisi, bunga deposito berkisar di angka 5-8%. Sedangkan rumah kostnya hanya menghasilkan 6% per tahun. Belum lagi dikurangi inflasi harga-harga.

Well, di satu sisi, benar, berinvestasi yang hanya menghasilkan 6% per tahun itu tidak menarik. Banyak pembanding yang bisa mengalahkan investasi 6% ini. Bila demikian didepositokan saja jauh lebih menguntunkan daripada membeli rumah kost.

Tapi sebenarnya, cara menghitung yang benar adalah tidak demikian. Ada 2 cara menghasilkan uang dari properti. Pertama adalah cash flow dan kedua adalah capital. Hasil 6% di atas hanya dari arus cash saja alias cash flow saja. Belum menghitung kenaikan harga properti setiap tahun yang variatif tergantung lokasi.

Bila harga rumah naik sampai dengan 10% per tahun alias rumah kost mendapatkan capital gain sebesar 10% per tahun. Maka sebenarnya rumah kost tersebut mendapatkan “uang” sebesar 16%. Darimana? Dari capital gain 10% ditambah cash flow 6%.

Catatannya adalah bahwa cashflow dapat diterima secara periodik, sedangkan capital baru dapat diterima ketika rumah kost tersebut dijual. Baru dibandingkan dengan deposito. Misal mendepositokan 100 juta, mendapatkan 8% per tahun. Bila setahun kemudian deposito ditarik, maka uang yang ada tetap 100 juta ditambah cash flow 8%. Bila itu properti, properti yang senilai 100 juta akan naik nilainya menjadi 110 juta ditambah cash flow 6%. Jadi totalnya mendapat 16%.

Categories: Blog Properti

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *