KREDIT BANK

Dalam proses pembelian properti baik untuk tujuan investasi, usaha atau digunakan sebagai hunian, mau tidak mau kita sering dihadapkan dengan proses pembiayaan bagi sebagian orang hal tersebut merupakan hal yang membingungkan terutama bagi orang yang baru pertama kali membeli sebuah properti. sehingga diperlukan adanya pengetahuan mengenai apa saja jenis pembiayaan properti dan bagaimana kelebihan dan kekurangan di setiap jenis pembiayaan tersebut. berikut kami ulas dengan singkat jenis pembiayaan pembelian properti yang lazim di Indonesia.

Tunai Bertahap vs KPR/KPA

Setelah meneliti beberapa sumber hal tentang rumah/ apartemen yang sedang di incar, anda tentunya akan memutuskan untuk membeli sebuah unit. bagaimanakah prosesnya? berikut ini adalah beberapa cara yang lazim dipraktekan oleh pengembang dan pribadi (rumah seken/sekunder) beserta kelebihan dan kekurangan masing-masing.

1. Tunai bertahap/cash lunak

Tunai bertahap adalah cara pembayaran yang dilakukan secara bertahap, biasanya dalam jangka waktu 6-24 bulan. konsumen tunai bertahap biasanya juga mendapat diskon dari pengembang, meski tidak sebesar konsumen tunai keras. persyaratan tunai bertahap lazimnya uang muka yang cukup besar sekitar 50% dari harga unit bersangkutan.

Kelebihan.

  • Tetap mendapatkan diskon, walaupun tidak sebesar tunai keras.
  • Tidak begitu repot dengan administrasi, sebab cicilan langsung kepada pengembang, bukan kepada bank.
  • Menanggung utang yang tidak begitu lama dengan bunga cicilan 0%

Kekuarangan.

  • Nilai angsuranya cukup besar karena jangka waktu yang pendek
  • Apabila bertemu dengan pengembang nakal, potensi risiko hukum lebih besar daripada pembayaran tunai keras.

Ilustrasi cara membayar tunai bertahap Harga rumah Rp500 juta.

Pada hari closing deal, anda membayar tanda jadi Rp.10juta (tergantung pengembang/kesepakatan) selanjutnya anda membayar uang muka sebesar 50% dari harga rumah dikurangi tanda jadi yang telah dibayar (Rp250juta – 10juta = Rp240juta). sisa pembayaran yang Rp250juta lagi akan dicicil selama 24 bulan dengan bunga 0% atau sebesar Rp10.417.000 per bulan.

Kiat meminimalkan risiko hukum dalam tunai bertahap

  • Hindari pemikiran “asas kepercayaan” setelah closing deal, tuangkanlah kesepakatan dalam perjanjian. akan lebih baik jika perjanjian dibuat didepan notaris, walaupun akan menambah biaya.
  • Dalam bertransaksi, sekecil apapun (misalnya uang tanda jadi atau pembayaran angsuran) pastikan memiliki tanda terima yang jelas dan sesuai kaidah hukum (kwitansi diatas 1 juta harus bermaterai Rp6000)
  • Hunilah rumah setelah pembayaran uang muka 50% sampai penandatanganan AJB terlaksana. mintalah kepada pengembang untuk memenuhi keinginan tersebut.
  • Bertransaksi dengan orang yang berwenang terhadap rumah tersebut (pemilik rumah/orang yang tercantum dalam sertifikat) – Hindari bertransaksi tunai, arahkan penjual ke transfer antar rekening bank.
  • Selama enam bulan masa angsuran, sertifikat asli harus sudah pernah dilihat untuk meyakinkan sertifikat rumah dalam keadaan aman, bila perlu, mintalah kepada pengembang agar sertifikat rumah dipegang oleh notaris. pelunasan diikuti bersamaan dengan penandatanganan Akta Jual Beli (AJB) dihadapan notaris disertai penyerahan sertifikat asli.

Kredit KPR/KPA

Cara pembayaran dengan kredit melibatkan pihak bank melalui program Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) atau Kredit Kepemilikan Apartemen (KPA). pada metode KPR/KPA bank yang membayar pelunasan rumah kepada pengembang. lalu anda akan mencicil pada bank dengan bunga tertentu. perlu diketahui, bank hanya membayar paling banyak 70%-80% dari harga rumah sesuai hasil analisis kelayakan kredit, sisanya (20%-30%) adalah uang muka yang harus anda bayar kepada pengembang. jangka waktu kredit bervariasi antara 3-15 tahun.

Kelebihan.

  1. Tidak perlu modal besar, cukup tanda jadi dan uang muka
  2. Dilengkapi asuransi jiwa dan kebakaran
  3. Risiko hukum sangat minim, karena bank mengecek seluruh dokumen kepemilikan dan IMB rumah. Bahkan, apabila terjadi permasalahan hukum, bank akan maju sebagai pihak yang paling berkepentingan terhadap rumah tersebut.

Kekurangan.

  1. Harga lebih mahal karena harga rumah akan ditambah bunga bank, ditambah lagi biaya administrasi dan provisi akad kredit.
  2. Sedikit ribet dengan melengkapi dokumen permohonan kredit.
  3. Menimbulkan kewajiban utang dalam jangka waktu yang cukup lama.

Ilustrasi cara membayar via KPR/KPA Harga rumah Rp500 juta.

Pada saat closing deal, anda membayar tanda jadi Rp10 juta (tergantung pengembang/kesepakatan). Selanjutnya anda membayar uang muka sebesar 30% dari harga rumah dikurangi tanda jadi yang telah dibayar (Rp150 juta – 10 juta = Rp140 juta). Sisa pembayaran Rp350 juta akan dicicil selama jangka waktu yang telah disetujui, ditambah bunga bank yang telah disepakati.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *