cash

RISHA hadir menjawab kekhawatiran akan kerusakan lingkungan akibat konsumsi bahan bangunan yang bersumber dari sumber daya alam yang sangat tinggi untuk memenuhi pembangunan perumahan beserta infrastrukturnya, berbanding terbalik dengan kemampuan sumber daya alam yang butuh waktu lama untuk memulihkannya kembali, artinya bila target penyediaan perumahan terpenuhi maka akan berdampak pada kerusakan lingkungan, yang akhirnya akan berdampak pada kestabilan kehidupan manusia.

RISHA telah diterapkan dan direplikasikan oleh stakeholder antara lain beberapa UKM. Respon dari pengguna produk ini cukup tinggi, dan saat ini lebih banyak diminati untuk kebutuhan pembangunan vila-vila, banyak yang tertarik untuk memiliki bangunan ini karena keunikan, sedangkan untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang menjadi kendala adalah belum adanya sistem pembiayaan yang mampu memfasilitasi kemampuan mereka, peminatan akan teknologi tersebut cukup tinggi

sehingga setiap komponen sudah diperhitungkan untuk dapat digunkan pada komponen-komponen yang beragam, seperti komponen dapat digunakan untuk pondasi, sloof, kolom, balok, kuda-kuda termasuk dinding. bahkan pada beberapa penerapan dilapangan komponen-komponen RISHA ini juga digunakan untuk pembangunan infrastruktur, seperti tower menara air, kanstin jalan, drainase jalan, pedestrian, kebutuhan lansekap [bangku, meja , prasasti, dsb, bahkan landasan helikopter].

Dan berikut biaya investasi RISHA :

Pada tahun 2005 biaya investasi RISHA untuk sebuah UKM mencapai 200 juta termasuk di dalamnya untuk workshop, sewa kantor, dan alat pencetaknya. Dengan perhitungan kemampuan produksi 1 unit rumah tipe 21 perhari.

Untuk penerapan bangunan, harga mencapai 1,2 juta/m2 untuk rumah satu lantai siap huni di luar lahan. Pusat Litbang Permukiman telah memiliki software SID RISHA (Sistem Informasi Desain RISHA) untuk menghitung biaya investasi kawasan, harga per unit, dan target grup. Biaya investasi ini termasuk biaya operasi dan pemeliharaan. Bila dibandingkan dengan teknologi konvensional, maka biaya investasinya relatif sama dengan teknologi konvensional yang memiliki jaminan mutu sesuai dengan SNI. Namun bila ditinjau pada arah pengembangan vertikal, maka teknologi ini akan jauh lebih hemat karena untuk penambah an sampai dengan dua lantai tidak diperlukan biaya tambahan perkuatan lantai dasar. Bila dibandingkan dengan teknologi konvensional, biaya perawatan teknologi ini jauh lebih hemat karena perbaikan kerusakan pada bangunan cukup dengan mengganti komponen-komponen yang rusak saja.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *